The Power Of One (TPOO): CIPTAKAN PETUALANGMU

Ada yang penting untuk saya sampaikan di sini bahwa selain melaksanakan ‘program KKN’ di desa Pogog itu sejatinya saya sedang menciptakan suatu teori baru dalam pemberdayaan masyarakat yang saya sebut sebagai teori “The Power Of One” atau TPOO.

MAS JIWO SESANTI

Apa yang bisa dikerjakan oleh ‘satu kekuatan seorang diri?’

Dari pengalaman saya selama menjadi ‘mas-mas KKN tunggal’ di desa Pogog dan latar belakang saya yang justru bukan siapa-siapa itulah yang menjadikan keberhasilan yang telah kita capai pasti bisa ditiru oleh siapapun dengan hanya satu syarat, komitmen. Lupakan apapun latar belakangmu, kamu pasti bisa.

Asal tahu saja bahwa ketika saya memulai menjalankan program sebagai ‘mas-mas KKN’ di desa Pogog pada tahun 2007 justru pada saat keadaan buruk, usaha saya sebagai eksportir mebel jatuh pada titik terendah sebagai akibat dari krisis global. Efek dari krisis ini secara spontan dan langsung menerpa saya karena saya bekerja sepenuhnya untuk pasar ekspor dan ketika pasar ekpor jatuh maka usaha saya juga ikut… jatuh.

IIMG-7255

Meski jatuh dan saat membutuhkan pertolongan orang lain tetapi yang saya lakukan justru menolong orang lain. Saya bikin program PEPAYANISASI di desa Pogog. Suatu keputusan yang tidak masuk akal dan bersifat personal yang tidak pendek kalau diuraikan lewat kata-kata.

Saat itu saya datang ke desa Pogog untuk bersilatrahmi yang secara rutin sudah saya lakukan. Desa Pogog, meski berupa pedesaan yang jauh dari segala permasalah dan issue-issue nasional apalagi global ternyata efek dari krisis itu sampai juga imbasnya di sini. Kesulitan hidup juga secara kasat mata dapat dilihat jelas di sini.

Saat itu saya melihat dan menemukan peluang untuk membantu perekonomian pedesaan di sini dengan caraku sendiri, dan itu cukup seorang diri bisa. Selanjutnya, keyakinan yang saya yakini kebenarannya di hati dan pemikiran saya ini harus dibuktikan bahwa seorang diri – tanpa bantuan siapapun tetap bisa..!

Saat itu saya tidak berpikir siapa yang akan menolong ekonomi saya. Yang saya kerjakan saat itu hanya karena saya bisa melihat peluang untuk warga dan sepertinya itu bisa saya kerjakan maka… ya saya kerjakan saja, meski bukan untuk saya.

Berbekal gaya dan managerial yang saya miliki selama bekerja bidang di mebel, saya ajak dan saya koordinir warga desa untuk menanam pepaya untuk menolong diri mereka sendiri dalam menghadapi krisis global ini (daripada mereka meminta pekerjaan kepada saya seperti yang pada waktu itu mereka lakukan, padahal, sebenarnya, saya sendiri juga sedang pusing sekali karena saya sendiri malah tidak punya pekerjaan, bisnisku terjun bebas).

Menanam pepaya di sini bukan dalam arti secara tradisional yang cuma dalam jumlah tertentu atau ala kadarnya saja tetapi dalam jumlah skala besar dengan konsep OVOP (One Village One Product).

perpustakaan di masjid

Program berjalan, bulan berganti tahun.

Akhirnya, saya justru bersyukur sekali bahwa saya telah memilih jalan itu yakni membuat program KKN untuk desa Pogog dan di sisi lain ternyata saya masih bisa bertahan dan menjalani tahun-tahun berikutnya tetap eksis sebagai tukang bikin kursi untuk ekspor meski tak pernah mengalami masa seindah pada tahun-tahun sebelum krisis. Saya masih tetap bisa bersyukur kalau melihat kanan – kiri banyak usaha serupa yang tak bisa bangkit lagi.

Akhirnya lagi, saya justru menyenangi kegiatan saya di Pogog dan bahkan saya anggap sebagai suatu petualangan yang sangat menyenangkan. Petualangan program.

IMG_0440 rs 30

Petualangan?

Petualangan adalah kata benda yang berarti melakukan aktifitas di luar ruangan dengan melakukan berbagai kegiatan menantang. Kegiatan ini disukai oleh hampir semua orang dan berbagai lapisan usia. Petualangan biasanya mengacu kepada penaklukan alam. Hal itu bisa berarti menaklukkan tingginya gunung, menerobos tebalnya hutan atau menyeberang luasnya samudra dan lain sebagainya. Petualang jenis ini saya sebut sebagai petualangan gaya lama.

Sedangkan petualang gaya baru, akan ada banyak jenis petualangan di sana – salah satunya, adalah apa yang saya sebut sebagai petualangan program.

Tantangan yang terdapat di dalam petualangan gaya baru ini tidak kalah serunya dengan tantangan petualangan gaya lama. Kita tidak usah mendaki puncak tertinggi untuk mencapai kepuasan tetapi puncak kepuasan juga ada dibalik kerja dengan memotivasi tinggi segenap warga untuk melakukan sesuatu yang baru yang mungkin akan menjadikan sandaran ekonominya.

Tidak perlu untuk melawan derasnya arus sungai atau derai ombak lautan untuk menunjukkan kekuatan kita tetapi seberapa kita bisa dan mampu melawan kuatnya kuatnya mind-set warga desa atau masyarakat untuk mau berubah sesuai yang diharapkan. Bagaimana mengedalikan arus pemikiran mereka supaya bisa satu arah dengan pemikiran suatu karya yang inovatif bernilai positif yang akan kita sajikan.

Tak perlu lagi menembus belantara untuk sensasi dan pencapaian tetapi cukup mencari celah-celah kecil di antara rimbunnya perekonomian pedesaan yang juga semakin tak mudah, carilah cara sederhana untuk mereka agar tetap bisa bertahan di balik kokohnya kerajaan bisnis orang kuat.

Dan ternyata…

Sekali lagi, tantangan petualangan program ternyata sama sekali tidak kalah seru dibanding petualangan gaya lama. Justru di sanalah yang akan selalu terdapat tantangan baru sebagai akibat persesuaian peradaban jaman. Hal itu takkan pernah membosankan.

Begitu juga yang saya alami selama saya menjalani petualangan saya di desa Pogog.

IMG_5826_resize

Saya justru menikmati dan menyenangi masa-masa petualangan selama kita menjalankan program DURIANISASI dan DESA WISATA BUAH DURIAN misalnya. Tantangannya? Kendala apa yang harus ditaklukkan, kapan saat kerja keras, kapan saat kerja cerdas, hasil apa yang akan kita peroleh kelak, harapan apa yang ingin kita capai dan lain sebagainya yang kesemuanya itu betul-betul menggerakkan segala rasa, harapan dan tubuh kita. Kita betul-betul berpetualangan…!

Berbekal pengalaman pribadi dan teori ilmu TPOO ciptaan saya maka saya akhirnya berketetapan untuk membagi ilmu sederhana ini. Harapannya akan ada pihak lain yang meniru / mengaplikasikan teori TPOO setiap kabupaten / kota ada minimal satu orang yang diseseuaikan dengan kondisi daerah tersebut maka pertumbuhan ekonomi di tingkat akar rumput akan berjalan baik karena kegiatan ini menitik-beratkan pada hasil nyata bukan sekedar nama atau program bombastis. Tidak harus satu kelompok orang juga tak apa, satu keluargapun juga okey…. atau bahkan hanya untuk satu oranpun juga sudah sangat baik.

IMG_3910_resize

Apa bisa pihak lain mengaplikasi teori TPOO? Jawabnya adalah bisa.

Kuncinya, lakukan ‘3 JANGAN’. Untuk berbagi kepada orang lain itu (1) jangan menunggu kaya, (2) jangan menunggu pintar dan (3) jangan menunggu punya waktu, (karena sejatinya, ketiga-tiganya tidak pernah benar-benar kita miliki).

Jangan menunggu kaya. Ingat, program-program yang saya lakukan di desa Pogog itu dimulai justru saya dalam keadaan jatuh. Maka kalau ada orang yang jauh lebih beruntung daripada saya alias lebih kaya secara materi dan saya percaya ada banyak orang kaya di luar sana yang bersedia dan berkomitmen TPOO maka sesungguhnya mereka akan lebih dahsyat menimbulkan efek pembangunan di masyarakat. Orang yang sedang jatuh saja bisa apalagi orang yang sedang jaya. Iya khan?

Jangan menunggu pintar maksudnya, saya ini orang lulusan Sastra, kuliah cuma mempelajari unsur-unsur kebahasaan seperti linguistik atau studi karya sastra saja. Apa yang selama pelajari di bangku kuliah tak akan mampu menjadikan saya ‘penyuluh pertanian’. Banyak pohon telah kita tanam tetapi banyak juga yang mati – maklum orang Sastra, tetapi jumlah pohon yang hidup tetaplah jauh lebih banyak jumlah daripada yang mati. Kalau saya menunggu menjadi pintar pertanaian untuk sekedar menjadi penyuluh, kapan hal itu akan terjadi? Ilmu bisa datang bersama saat praktek.

Jadi prinsipnya terapkan 3-J: Jebret-Jebret-Jebret.

Aksi dulu, tanya-tanya berikutnya.

Tanam dulu belajar sesudahnya. Jebret aja dulu – urusan belakangan.

Siapa yang berani melakukan? Hanya petualang sejati yang bersedia. Makanya, kalau harapan sudah diniatkan, langkah sudah diayunkan di sana jangan ada ragu-ragu lagi untuk menempuhi satu petualangan yang sesungguhnya.

Kembali ke poin di atas, jadi kalau yang sudah jadi ahlinya dalam bidang pertanian tentu seharusnya lebih sukses dalam bercocok tanam bila dibanding orang Sastra. Iya khan?

Jangan menunggu punya waktu. Saya ini bukanlah seorang pengangguran di  mana waktu saya selain untuk bekerja sesuai profesi yang saya tekuni juga harus dibagi dengan keluarga – apalagi pada saat-saat usaha dalam keadaan kritis. Meski begitu nyatanya saya masih bisa menyisihkan waktu untuk mengerjakan program-program di desa Pogog. Jangan menunggu punya waktu untuk berbagi. Bahkan, kalau mau jujur, bahkan seorang pengangguran sekalipun juga tak akan pernah punya  waktu untuk orang lain. Iya khan?

Apa teori TPOO bisa ditiru oleh siapapun?IMG_0535_resize

Siapapun bisa meniru..! Syarat utama cuma tiga tadi yakni harus melakukan ‘3 JANGAN’  tapi ada sedikitnya dua lagi syarat yang tak kalah simpelnya yakni: kecil dan lokal. Kegiatan itu harus cuma kecil bentuknya dan lokal sifatnya.

Syarat ‘3 JANGAN’ adalah simpel begitu juga syarat berikutnya KECIL dan LOKAL. Karena keduanya itu cuma hal yang simpel jadi diharapkan bisa melakukannya.

Syarat kecil artinya bahwa kegiatan itu haruslah dimulai dalam bentuk yang paling kecil saja cakupannya. Tidak harus satu kelompok masyarakat tertentu misalnya tetapi cukup hanya untuk satu keluarga atau bahkan satu orangpun itu sudah merupakan awal yang baik. Tetapi ingat, kegiatan itu harus mempunyai efek yang nyata bagi yang bersangkutan.

Bersifat lokal artinya kegiatan itu tak perlu melebar ke mana-mana cukup dalam ruang lingkup sempit dan terbatas agar lebih mudah mengontrol juga lebih murah dalam alokasi apapun: waktu, biaya, jarak, dll.

Berbentuk kecil dan sifatnya cuma lokal asal kegiatan itu efeknya nyata maka perubahan dari kecil menjadi besar dan dari lokal menjadi lebih luas bukan perkara sulit. Kalau sesuatu itu ‘nyata’ maka ia tiada kata sulit untuk berkembang.

Dan karena saya yang serba terbatas ini, yang terpuruk, yang tak memiliki ilmu dan juga sibuk saja BISA, maka orang yang memiliki segalanya lebih dari saya maka seharusnya mereka LEBIH BISA.

Untuk itulah saya memberanikan diri untuk mewartakan teori TPOO-ku ini untuk bisa dibagi dan diserap masyarakat sambil berharap ini akan menjadi gerakan tanpa bentuk tanpa nama (yang penting nyata) dan sesegera mungkin diaplikasikan siapapun juga yang tertarik dengan harapan ada gerakan serentak dan bersama-sama untuk pembangunan Tanah Air tercinta.

pin pogog 4 macam

Seorang diri? Bisa..!

Ciptakan Petualangmu..!

Terapkan 3-J: Jebret-Jebret-Jebret!

Salam

_/\_

Mas Jiwo Pogog

Tentang foto-foto menjadi ‘mas-mas KKN’ dan blusukan ke pedesaan yang dilakukan sejak 2007 itu ada di link ini. Klik di sini: https://masjiwopogog.wordpress.com/2009/09/01/mas-jiwo-on-duty-dokumentasi/

Naskah dan photo (C)2013 by Mas Jiwo Pogog. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Advertisements
Posted in Dinamika Pogog, Konsep | Tagged , , , , | 8 Comments

KOANG (Bagian Ke-3)

koang 3

Bekerja cermat tanpa komando tim kecil Pogog itu seakan sudah tahu tugasnya masing-masing yang sesuai dengan kapasitas diri mereka. Yang jebolan tukang batu langsung mengerjakan pertukangan. Yang tukang timbang permukaan air langsung membuat perhitungan dan pemetaan jalur pipa yang akan dilalui pipa dan memastikan jalur pipa itu akan mendukung teori kapiler dengan baik sehinggadebit air dalam pipa mempunyai daya hisap ke bawah secara maksimum. Ada yang bertugas membuka dan menyiapkan lahan yang akan dilalui pipa pralon. Aku juga kebagian tugas, tugas yang khas bagi seorang pendatang dari perkotaan: memotong kawat kabel.

“Kita harus memindahkan batu-batu besar itu Mas Jiwo” kata Pak RT sang ahli timbang permukaan air sambil menunjuk setumpuk bebatuan seukuran babi hutan liar raksasa yang pernah aku lihat di pulau Zamrud Kaltulistiwa, pulau Kalimantan. “Berhubung tenaga yang ada pada berpuasa jadi kita kerjakan semampunya saja” lanjut sarannya yang khas seperti layaknya seorang pengayom pedusunan. Tapi bagiku, kalimat terakhir itu sepertinya ditujukan khusus untukku: kerjakan semampunya, karena puasa..! Aku tahu itu adalah kata-kata sayang kepadaku kalau ‘orang kota’ semacam aku itu harus bekerja maksimum seperti ‘saudara desa’ yang sudah terbiasa bekerja keras pada bulan puasa puasa.

Kita lihat nanti, apakah orang kota itu lembek-lembek seperti yang diperkirakan. Apakah semua orang kota seperti itu? Kita buktikan..!
Di balik kelokan kali yang menyempit dinding kanan-kirinya tiba-tiba terdengar seperti sebuah aba-aba: “Abu Bakar… Umar… Ustman………….. Ali”. Seseorang meneriakan dengan tegas tiga nama pertama dengan tempo teratur seperti seseorang sedang menghitung disusul jawaban suara serempak kata ‘Ali’ seperti sedang mengamini sebuah doa. Aku baru tahu sekarang ternyata sebuah batu itu adalah aba-aba untuk mengangkat sebuah batu secara bersama-sama. Pada hitungang ‘Ali’ maka semua mengerahkan segenap tenaga untuk bisa memindahkan batu itu. Sedang apda hitungan ‘ Abu Bakar, Umar, Ustman’ adalah aba-aba persiapan dan mengumpulkan tenaga. Tradisi keislaman rupanya telah menyatu dalam denyut kehidupan pedesaan sejak lama. Meski begitu benih-benih dakwah santun masih harus disampaikan di sini. Para khalifah sahabat Nabipun berseru dan bersama kami di dasar kali Koang.

“Gusti Allah-nya petani itu Tuhan Yang Maha Sabar, welas asih dan tidak nggege mongso. Tuhan-nya para konco tani selalu mengajarkan kelembutan dalam samudra luas kesabaran. Tidak suka memvonis dan tak suka menghakimi pula. Tertib berjalan pada tingkatan ruas-ruas kesabaran serta jauh dari ambisi ingin menjadi yang paling benar” begitu kata-kata yang masih aku ingat dari ceramah seorang sahabat Pogog-ku si Bugel yang saat ini absen dari gotong-royong Koang ini.

Ada banyak Abu Bakar yang berkeliaran di situ, banyak pula Umar bergema di antara dinding kali… Ustman… juga Ali demikian juga maka ada banyak pula batu-batu besar yang sudah berpindah dari tempat semua.
Matahari sudah di atas kita tetapi kita belum pula beranjak dari para Khalifah itu berada. Berjam-jam dihabiskan hanya untuk menangani satu titik. Linggis dan segala peralatan sederhana lainnya sudah kebagian bekerja di sini.

Ketika sudah didapat sedikit gambaran arah pipa sehabis kondisi bebatuan itu dan dengan sigap Mbah Tronjol mengayun linggis tajamnya menghantam dinding cadas keras untuk membuat seperti satu jalur air kecil di dinding cadas itu. “Bukan untuk jalan air Mas Jiwo. Nantinya pipa pralon ditanam dilajur ini dan selanjutnya diperkeras dengan adonan cor semen. Karena celah kali di sini sempit jadi terlalu beresiko kalau pipa pralon PVC dibiarkan telanjang di dasar sungai. Penyempitan celah mengakibatkan laju air dicelah ini menjadi deras dan cepat. Kekuatan dan kecepatan yang ditimbulkan bisa saja mematahkan pipa kita apalagi ketika terjadi hujan besar. Oleh karena itu pada jalur seperti ini pipa pralon harus ditanam dan disemen agar tak tersentuh oleh air deras” jelas Mbah Tronjol.

Aku menjadi tertarik mengamati dinding-dinding sungai seperti ditempat Mbah Tronjol kerjakan. Sepertinya ada keseragaman tekstur permukaan dinding sepanjang yang bisa dilihat. Bebatuan cadas keras dan tak berpori. Bebatuan inilah yang menjadi dinding sungai. Kenapa menjadi dinding sungai? Ya… karena sungainya itu sendiri terbentuk dari babatuan cadas raksasa yang terkikis air. Semuanya bebatuan cadas. Pasti dasar sungai ini juga terdiri dari bebatuan cadas yang tak tembus air. Kalau bukit-bukit di atas desa Pogog itu terdiri dari bukit-bukit cadas maka wajar kalau desa-desa di bawahnya tidak banyak memiliki mata air atau sumber. Air hujan tak pernah bisa disimpan pada kondisi lapisan piroklasik yang tak berpori ini. Tetapi kondisi ini tidak begitu saja dikatakan tak menguntungkan. Ada keuntungan secara tekhnis di sana kalau kita mampu memanfaatkan. Karena sifatnya yang tak tembus air maka dasar dan dinding sungai Koang ini bisa dimanfaatkan sebagai deretan waduk penampungan air mini. Caranya pada bagian bawah setiap cekungan air dibuatkan sebuah tanggul penahan air. Ada banyak cekungan di sana sehingga bisa didapat banyak waduk mini alias bak penampungan air. Dan karena kali Koang itu berada di lereng perbukitan maka kontur sungai itu itupun juga tidak rata. Dasar sungai semakin ke bawah semakin menurun titik ketinggiannya. Inilah yang harus dihitung sebagai satu keuntungan. Kalau semua mini waduk sudah dibuat maka semua titik penampungan akan selalu mendapatkan pasokan berupa panen air hujan yang selalu tersedia untuk mengisi semua bak atau mini waduk yang dibuat. Kalau itu terjadi maka stok air hujan bisa dipakai untuk pengairan di musim kemarau. Apalagi di Pogog dan sekitarnya… kalau musim kemarau tiba semuanya menjadi lebih kering di sini. Air semakin sulit pula didapat di sini.

“Perlu ada perubahan signifikan” kata si Bugel lagi meniru ucapan para pejabat yang getol memakai kata signifikan untuk sebuah pidato hebatnya. “Perlu sebuah perubahan yang drastis dan mendasar bagi warga desa sini dalam melihat sumber daya alam dalam hal ini air hujan. Kini saatnya menjadi lebih berkah, kini tiba saatnya panen air hujan, panen raya terhadap sesuatu yang se-la-ma hi-ni… (suaranya diberat-bertakan seperti suara bang Haji Rhoma) tidak pernah di-mang-fangat-kan! Selama kesia-siaan itu terjadi berarti pengabaian sumber daya alam akan tetap berlangsung. Ketidak-mampuan melihat air hujan sebagai potensi menjadi sebuah bekal yang sangat berarti untuk musim kemarau harus disudahi. Paradigma baru harus dikembangkan. Menampung air hujan harus digiatkan dan digalakkan. Mulailah dari sebuah bak penampungan sederhana dari plastik, misalnya” lanjutnya dengan nada semangat.

“Tapi aku sudah memulainya dengan membuat kolam terpal plastik beberapa tahun yang lalu” sergahku tak mau kalah.

“Tak perlu berubah genetis menjadi seorang eksekutif- birokratif untuk mengerjakan apa yang menjadi ide kali ini” kata si Bugel lagi seakan berusaha tak ingin menyambung kilahku.

“Enak saja kamu ngomong seperti itu Gel.. Bugel..!” batinku.

Berpidato lagi si Bugelnya: “Kalaupun aku yang jadi pemegang kekuasaan eksektif di wilayah ini dan dengan segala potensi pembiayaan yang diamanahkan kepadaku maka akan aku survei semua tempat seperti itu di seluruh kerjaku. Akan aku sulap tempat itu menjadi deretan waduk mini. Akan aku buktikan dan aku wujudkan hal ini sebagai sumbangsihku kepada negaraku yang katanya negara agraris”. Ada jeda tipis dan dia menarik nafas terus melanjutkan koar-koarnya lagi: “Negara agraris tanpa waduk irigasi adalah omong kosong. Penampungan air, waduk atau apapun itu adalah soko guru utama sebuah adeging sebuah negara yang dikatakan negara agraris” katanya berapi-api.

Aku tidak tahu kesombongan ucapannya itu bermuasal dari mana yang jelas dia nampak seperti seseorang yang sedang tidak terpuaskan kebutuhan batinnya.

Agak lama aku berdialog dengan si Bugel. Tak terasa rombonganku sudah berjalan ke bawah agak jauh dari tempat aku duduk sambil memotong kabel tali.

Bersambung lagi ke bagian 4..!

>>>>>>>>>>>

Posted in Dinamika Pogog | Tagged , , , | Leave a comment

KOANG (Bagian Ke-2)

koang 2

Kita membalas teriakkannya untuk sekedar memberitahukan posisi kami untuk memastikan bahwa dropping pipa pralonnya tepat di titik yang kita maksud. Dasar kali Koang memang tak terlihat dari permukaan di atasnya yang merupakan area persawahan tadah hujan. Tak berapa lama aku lihat teman Pogog-ku Agus dan delapan orang lainnya menyusuri medan turunan sempit dan berliku di antara jalan setapak yang cukup sulit untuk sekedar turun ke kali. Empat dari delapan orang yang membawa pipa pralon itu aku tidak mengenalnya. Mereka adalah petani pemilik lahan sawah di atas Kaong, mereka adalah relawan. Adalah biasa di sini hidup dalam ke-gotong-royong-an.

“Siyam mboten pak?” kataku kepada bapak-bapak tani itu yang artinya (sedang) puasa tidak. Di antara senyuman mereka aku melihat gulungan rokok tingwe, rokok buatan sendiri menghiasi bibir mereka. Belum selesai aku meneruskan kalimatku, Kang Rimo menimpali: “Istirahat dulu pak, silahkan nyarap dulu. Itu ada ingkung ayam panggang… silahkan di-rahap-i”. Demikian Kang Rimo mempersilahkan mereka untuk istirahat bagi yang tak berpuasa dan menikmati ingkung ayam panggang yang dibuat Pak RT dari rumah sebagai kelengkapan tata cara pengambilan air demi kelancaran.

Suasana di bawah sini menjadi semakin ramai. Mungkin saja bisa dikatakan ramai sekali kalau saja aku bisa melihat mahluk-mahluk halus penghuni sungai yang mungkin juga sedang melihat kita bekerja.

“Nuwun sewu, mohon maaf, apakah sampeyan ini yang namanya Mas Jiwo?” kata seorang dari bapak-bapak itu membuka pembicaraan.
“Pangestunipun, betul saya pak” kataku.
“Sudah lama saya mendengar ceritanya tapi baru kali ini saya bisa ketemu langsung dengan sampeyan mas” katanya lagi.
“Dengar cerita apa pak tentang diriku, moga-moga itucerita yang baik-baik saja” kataku menimpali.
“Hahaha… tentu saja mas” sahutnya, “Katuran mampir ke gubug kulo, saya tinggal di atas sedikit dari jalan pintas menuju ke Koang ini”.

Aku paham, si bapak itu pasti telah mendengar program-programku selama ini. Bukan bermaksud ke-ge-er-an, tapi di sini memang segala cerita dan berita cepat sekali tersebar, spread by words, dari mulut ke mulut baik cerita baik maupun buruk. Untuk sekedar berbeda atau sekedar menjadi orang asing di sini saja pasti akan menjadi sebuah berita. Sebenarnya ini adalah sisa-sisa peradaban orang kuno dalam hal pertahanan orang desa: saling kontrol. Bisa dipastikan bahwa daerah-daerah yang memiliki pertahanan seperti ini di manapun berada dengan ciri utama yakni sistem kekerabatan dan sifat ke-gotong-royong-an masih kuat maka akan menjadi tempat yang sulit bagi pelaku-pelaku kejahatan untuk bersembunyi. Solidaritas tak terbentuk berdasar kelompok tetapi demi keamanan secara bulat bagi semua lapisan masyarakat. Kalau toh ada orang desa yang tak berlaku demikian biasanya orang itu sudah terpengaruh orang luar, sentimen kelompok, biasanya orang itu berperilaku aneh dan biasanya pula bersifat eksklusif. Dunia memang tak akan pernah berpaling dan memenangkan bagi yang berilaku aneh.

“Tingginya sebarapa Mas Jiwo?” tiba-tiba suara Kang Rimo memecah lamunanku, menanyakan seberapa tinggi tanggul sederhana penahan dan sekaligus semacam bak penyimpan air yang akan kita buat secara permanen dari adonan semen dan pasir.
“Lhoh.., kamu khan justru ahlinya dalam bidang seperti ini Kang” kataku membalikkan kata. “Kalau menurutku cukup dua hasta saja tingginya. Dan yang terpenting dari semua itu adalah justru di ujung pipa. Ujung pipa ini harus mendapatkan perlindungan sempurna ketika musim hujan tiba nantinya. Air terjun yang ditimbulkan dari ketinggian yang cuma 2 meteran di bak tampungan itu tidak boleh merusak atau mengangkat, mematahkan ujung pipa. Jadi letaknya saja yang agak dijauhkan dari terjunan air” kataku memastikan.

Bersamaan itu pula datang lek Diyono membawakan satu ikat ijuk yang diambil dari pohon aren yang tumbuh di sekitar situ. Seterusnya ijuk itu dililitkan diujung pipa pralon setelah dibentuk sedemian rupa yang menyerupai sebuah saringan. Dan memang betul bahwa ijuk ini berfungsi sebagai penyaring air keruh sungai agar partikel tanah liat yang terkandung di dalam air sungai ini tidak masuk ke dalam pipa yang mungkin saja bisa menimbulkan sumbatan. Kalau hal ini terjadi maka akan menjadi satu perkara yang sulit sekali untuk melacak di mana titik sumbatan itu apalagi jarak pipa pralon bisa mencapai 3 kilometer lebih. Pengalaman dan tehnologi sederhana yang telah teruji adalah kunci keberhasilannya.

“Tali pengikut ijuk yang paling baik adalah kabel” kata Kang Rimo sambil mengeluarkan satu rol kabel single ukuran 2 milimeter dari dalam tasnya. Aku telah mempercayai bahwa Kang Rimo adalah satu satu ahlinya dalam bidang ini. Aku jadi tahu sekarang bahwa kabel single yang terbuat dari tembaga tentu saja tak akan mengalami berkarat ketika harus bertahun-tahun terendam dalam asamnya air sungai. Begitu juga dengan karet PVC pembungkus kabel itu justru akan menjadi keras ketika terendam lama.

“Sepuluh tahunpun ijuk ini akan tetap bekerja dengan baik menjadi saringan air kecuali ada binatang sejenis landak atau sliro yang sering menjadi pelaku pengrusakan” kata Kang Rimo menjelaskan. Dan kata sliro yang dimaksud alalah biawak. Sliro adalah nama atau sebutan lokal Pogog. “Sisa kabelnya nanti akan kita pakai sebagai tali untuk mengikat semua pipa pralon dengan tambatan ranting pohon sampai ke desa kita” lanjutnya. Selanjutnya aku kebagian tugas yang paling enteng, memotong kabel itu menjadi panjang 20 dan 40 centimeter.

Matahari semakin meninggi ketika kita selesai membuat bak serta tak lupa meletakkan ujung pipa di dasar bak itu dan menyemennya. Ingkung ayam panggang juga sudah habis ludes di-rahap-i oleh bapak-bapak tani tadi.

(Terhalang batu, terbentur cadas dan cerita lainnya… maka nantikan lanjutan ceritanya..!)

Bersambung ke bagian 3…! >>>>>>>>>>>>>

Posted in Uncategorized | Leave a comment

KOANG (Bagian ke-1)

KOANG 1

Petualangan adalah suatu jenis aktifitas yang disukai oleh hampir setiap orang – baik laki-laki maupun perempuan, tua ataupun muda. Petualangan hampir selalu identik dengan tantang dan penaklukan karena itu pasti akan banyak cerita seru dan kesenangan di sana.

Aku belum pernah menceritakan salah satu seri petualangan seruku selama aku menjalani sebagai ‘mas-mas KKN di desa Pogog’ – tepatnya petualangan itu terjadi di lembah sungai Koang tepat 2 tahun yang lalu. Tepat pada bulan puasa juga.

Sungai atau orang desa setempat lebih sreg menyebutnya sebagai: kali.

Kali Koang adalah sungai kecil di atas desa Pogog yang mengalir melewati tengah-tengah desa. Kali itu kecil kalau dilihat dari volume air yang mengalir dalam kesehariannya. Tetapi kali Koang juga bisa dikatakan sebagai sungai yang besar kalau dilihat dari dinding kanan kiri sungai yang terkadang saling terpisahkan cukup lebar sampai sejauh 20 meteran. Pada titik tertentu lebarnya cuma 2 meteran saja. Tinggi dinding sungai ditumbuhi tanaman perdu juga tanaman liar lainnya. Rumput liar tumbuh memanjang dan terjuntai ke bawah sepanjang satu hasta an selalu menyisakan warna gelap di bawahnya. Hampir bisa dikatakan ini daerah yang tak pernah dijamah manusia selain karena tempatnya yang sulit dijangkau juga karena daerah mati. Artinya, daerah yang tak ada manfaatnya didatangi. Justru karena itulah tempat ini menjadi surganya beberapa serangga, burung dan ular. Patutnya area ini justru merupakan tempat yang mewah atau bahkan istana penghuni alam ghoib berada. Sepi, lembab, gelap dan berdaya magis.

Dinding-dinding curam itu terbentuk karena aliran air – maksudnya air hujan dan angin selama ratusan tahun. Dinding kali Koang terkadang berupa batu cadas atau bisa juga tanah liat dan bisa juga batu andesit yang super keras. Kali Koang hampir selalu terlihat kering meski pada musim penghujan sekalipun. Ini adalah tipologi sebuah kali di lereng perbukitan yang tidak bisa menyimpan air hujan karena air hujan itu akan langsung tergelontor ke bawah sesuai hukum alam dan tak tersisa tinggal di dasar sungai. Meski begitu di dasar sungainya itu hampir sepanjang tahun masih saja ada air untuk irigasi sederhana. Ini bukan air hujan tetapi air tanah. Air itu tersimpan baik di cekungan-cekungan air dasar sungai. Tanah liat dan batu cadas sangat pintar menyimpan air rembesan karena tanah liat atau batu cadas itu memiliki pori-pori yang rapat. Ada banyak titik rembesan di sepanjang, meski begitu volumenya tak pernah banyak.

Kala itu itu terjadi pada bulan puasa dua tahun yang lalu (2011).

Petualangan selalu penuh dengan kesenangan. Dan semua jenis kerja dan karyaku di desa Pogog selama ini selalu aku kemas sebagai sebuah petualangan. Pepayanisasi, durianisasi, ayamisasi, asemisasi, perpustakaanisasi (adakah kata kerja seperti itu di KUBI), qurbanisasi (juga untuk yang ini) dan… pralonisasi yang kala itu sedang kita kerjakan, aku anggap semua itu sebagai petualangan.

Pagi itu suasana di desa Pogog masih agak gelap dan sepi. Di dasar kali Koang suasananya lebih sepi lagi.

“Kali (Koang) ini angker. Perlu perhatian dan kewaspadaan diri terhadap hal-hal yang mungkin menimbulkan seuatu yang tak dikehendaki bersama” begitu petuah Pak ketua RT desa yang ikut terlibat pada missi “pralonisasi” ini. Aku sejatinya sudah tahu berbagai cerita yang pernah terjadi di sekitar kali Koang ini. Toh aku juga bukan orang baru di sini.

Dari dasar sungai, rerimbunan tanaman perdu tumbuh lebat di atas kepala. Ada di kanan-kiri kita. Warna gelap sepertinya terperangkap di balik rerimbunan itu. Tak ada cahaya. Bagiku nampak seperti sebuah dunia tersendiri yang penuh misteri. Aku tidak bisa menebak apa dan siapa yang bercokol di sana. Tidak tahu itu dunianya siapa. Matahari pagi belum tepat waktunya mengantarkan sinarnya menerangi kami di dasar sungai itu. Gurat warna cerah dibawah langit biru aku melihat cahaya matahari itu ada di sana, di atas kepalaku. Cepatlah bergerak ke barat, kirim cahayamu ke sini, mungkin itu kata-kataku kalau saja aku harus berdoa.

Pada suatu titik yang disepakati itulah kita akan membuat bendungan kecil untuk menampung air yang selanjutnya kita akan mengalirkannya melalui pipa pralon ke bawah sampai ke desa kita. Jaraknya 3 kilometer lebih. Cuma kita berlima yang datang duluan ke tempat ini. Ada 10-an teman lainnya yang segera menyusul sambil membawa pipa-pipa pralon yang panjangnya 4 meteran. Setiap ikat ada 15-20abn batang. Aku tahu pasti mereka segera menyusul ke tempat ini. Aku tahu, barang bawaannya itu pasti membuat kesulitan menembus tempat ini. Tetapi itu harus dikerjakan. Pipa pralon itu akan dipasang dan mulainya dari titik di mana aku berada saat itu.

Gemericik air yang jatuh diantara rembesan di dinding air di sungai itu berpadu suara daun bergesek serta hembusan angin kering pada musim atau mongso ‘mbedhidhing’ membentuk suara magis yang meski sayup-sayup kedengarannya tetapi justru hal itu meningkatkan andrinalinku. Aku nyatakan bahwa aku tidak takut akan hal itu. Aku sudah sangat terbiasa dengan yang seperti ini. Aku hanya ingin mencoba berpikir ilmiah, aku hanya ingin mengurai unsur pembentuk suara-suara itu. Suara itu sepertinya keluar dari dalam bumi. Di sini segala jenis suara jadi lebih jernih dan nyaring terdengar. Desis suara dengan tingkat desibel rendahpun tampak nyata dan bisa dinikmati, karena di sini sepi. Cekungan di dasar kali Koang ini seperti perangkat sub-wover raksasa dan aku terjebak di dalamnya untuk menikmati alunan suara-suara anehnya.

“Pada dasarnya ini bukan satu tempat yang membahayakan meski aku belum terbiasa menikmatinya aku pikir semua akan baik-baik saja” demikian kata batinku.

Mengalirkan air sebagai penunjang kehidupan manusia secara hitung-hitungan adalah satu peristiwa besar dalam jagad hidup orang Jawa. Untuk sesuatu yang besar maka Pak RT melakukan ritual kecil sesuai adat kebiasaan yang telah berlangsung dari nenek moyang warga desa di sini yang tujuannya agar apa yang kita kerjakan tidak terkendala sedikitpun. Selang beberapa saat kita semua berkumpul dan membentuk lingkaran kecil. Kini giliranKang Rimo membacakan doa selamat. Dan, kita semua mengamininya.

Seekor ular Gadung melintas, merambat mendatar pada sebatang ranting pohon yang aku tak tahu namanya persis di atas kepala Pak RT yang berdiri tak jauh dari tempatku. Pak RT tak melihatnya. Aku tidak kuatir terhadap Pak RT. Kalaupun Pak RT melihatnya juga tak akan menakutkannya. Hal itu sudah biasa di sini. Ular itu sepertinya terusik oleh kehadiran kita dan asap serta bau kemenyan yang dibakar Pak RT. Warnanya hijau cerah dan nampak kontras dengan latar belakang gelap. Sajian eksotis itu seakan telah di-setting khusus untukku untuk bisa dilihat dengan sangat jelas dan sangat dekat. Perjumpaan pertama antara penghuni alam liar dan peradaban manusia tanpa ada gesekan. Instingku mengatakan ular ‘daun’ ini tidak akan menimbulkan apapun kepada kita meski aku tahu sebenarnya ular ini terkenal agresif, berbisa dan suka menyerang orang meski cuma sekedar melintas di bawah tempat dia bertengger. Warna kulitnya yang hijau menjadikan dia sempurna menyamarkan diri di antara daun dan ranting.

Di lembah kali Koang ini aku seperti menjadi atau sedang menikmati awal dari sebuah petualang Indiana Jones di dunia nyata. Alam liar, dunia ghoib dan tantangan alam serta target pekerjaan siap dan menunggu untuk ditaklukkan.

Tiba-tiba ada teriakan di atas. Itu teriakan rombongan teman-teman yang kebagian kerja angkat pipa pralon menuju ke bawah sini. Mereka memanggil namaku, Pak RT juga Kang Rimo…

Bersambung ke bagian 2…!

(KUBI, Kamus Umum Bahsa Indonesia)

Posted in Dinamika Pogog, J'lajah Desa | Tagged , , | Leave a comment

REYOG: The Peoples By Mas Jiwo Pogog

reyog ve1b

Photos (C) by Mas Jiwo Pogog. Hak cipta dilindungi undang-undang.

reyog v1b

mbah kusni seboto

reyog 2de

reyog 2ze

bujang anom

reyoger OSTRALI

reyoger kecil

reyog india maning

reyoger and dayaker

simbah wagimin sakti

MDG's Reyoger

reyoger india

duo reyoger pogog

reyog 2edKasni Gunapati rs

IMG_2437_resize

reyog v23

reyogw 3

reog n qurban

mang ijam

mbah jito gundul

reyog 23

Baju Reog_resize IMG_7198_resizeIMG_5290_resize

Photos (C) by Mas Jiwo Pogog. All rights reserved

>>>>>>>

Posted in Kabudayan, Ponorogo, Reyog | Tagged , , , , , , , , , | 10 Comments

REYOG The Living Culture by Mas Jiwo Pogog

reyog in gadget
jadikan gambar foto barongan reyog ini sebagai wall paper atau screen saver di HP kamu, di PC kamu or laptop.selain merupakan head shoot yang bagus dengan latar belakang yang gelap yang akan mempercantik gadget kalian, foto ini akan nampak unik dan lain dari yang lain apalagi dibanding foto-foto standard setting dari sononya. lihat di foto contoh gadget yabg sudah memakai wall paper foto barongan reyog itu, nampak unik dan menarik khan and so… different khan?pemakaian foto ini sepenuhnya gratis..! mau download juga boleh..!download-nya di sini: http://www.facebook.com/photo.php?pid=1769619&l=533e753e5f&id=1468758503dengan menjadikan foto ini sebagai wall paper atau screen saver di perangkat elektronik kalian maka kalian telah ikut berperan aktif dan nyata dalam upaya mencintai produk budaya dalam negeri sendiri.

kenali… cintai… karya-karya anak bangsa!

foto ini adalah karya saya dan saya sepenuhnya memberikan hak pakai untuk kalian semua untuk tujuan non-komersial.

terima kasih dan salam indonesia

salam

_/\_

Mas Jiwo Pogog

reyog 4aa

Just share aja… lukisan dinding di rumah seorang warga di suatu pedesaan di Ponorogo.

Desa Pogog yang secara geografis lebih dekat dengan kota Ponorogo yang di Jawa Timur itu maka secara kultural budaya yang berkembang di sana adalah budaya Ponorogoan meski secara adamistratif desa Pogog masuk wilayah kerja kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Cerita terkait dengan Barongan Reyog ini ada di link ini:https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1715546696352&set=a.1101860714586.17724.1468758503&type=3&theater. Silahkan dibaca, moga bisa menambahi wawasan. Dan kebetulan saya secara legal formal seorang ahli bahasa maka saya membuat tinjuan deskripsi berdasar ketata-bahasaan khususnya dari sudut etimologis dalam menyimak sejarah perkembangan Reyog itu sendiri. Mayannn… buat bahan cerita anak, adik atau siapapun yang ingin tahu sejarah Reyog.

Wassalammm..

_/\_

Mas Jiwo Pogog

bujang anom 2

bujang ganong patihnya prabu klono sewandono dari kraton bantaran angin.

situs peninggalan kraton bantaran angin ini terletak di desa seboto, kecamatan jambon, sumoroto, ponorogo, jatim.

informasi terdekat dengan situs ini, hubungi dan tanya saja sama pak bonari reyog, desa seboto yang rumah tinggalnya cuma beberapa puluh meter dari lokasi. bilang saja yang kasih informasi tentang pak bonari dari mas jiwo pogog dari solo maka pelayanan ditanggung ok.

pak bonari selain menyediakan dan membuat ubo-rampe tentang reyog, beliau juga menjual baju dan kaos reog, sak pole akehe…!

setren reyog cilik

photo (C) 2009 by Mas Jiwo Pogog

anak-anak dari desa setren, slogohimo, wonogiri.
desa ini terletak di sisi selatan gunung lawu pada ketinggian 900-1.000 dpl. derhawa sejuk dan air mudah dijumpai di sini.
matapencaharian warganya adalah petani ladang kering dan sebagian kecil petani teras siring.

di desa ini terkenal dengan kesenian tradisional kethek ogleng. satu kesenian yang mengambil gambaran atau tokoh hanoman si kera putih kesatria dan pertapa dari kendalisodo.

selain itu juga menggemari kesenian reyog ponorogo yang secara geografis desa ini tidak terlalu jauh dengan kota ponorogo tempat asal kesenian itu berasal.

perhatikan baju reyog yangdipakai anak kecil ini yang juga merupakan baju keseharian mereka.

kenapa jagung itu dikupas dan diikat sedemian rupa? jagung dikupas selanjutnya dijemur dibawah terik matahari hal ini untuk maksud dan tujuannya adalah untuk penyimpanan agar selalu dalam keadaan kering dan terbaik saja.

biasanya, untuk menghindari adanya hama ‘bubuk’ atau ‘thothor’ yang memakan jagung ketika disimpan, biasanya rentengan jagung yang telah kering itu ditaruh diatas perapian. hal ini untuk menjauhkan hama-hama itu datang.

desa setren terletak di bawah obyek wisata air terjun girimanik.

salam… rahayu ingkang sami pinanggih

_/\_

Mas Jiwo Pogog

Photo (C) by Mas Jiwo Pogog. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Bathoro Katong Ponorogo (1)_resize Bathoro Katong Ponorogo_resize IMG_0021_resize IMG_0026_resize IMG_0029_resize IMG_2674 edited_resize IMG_2677 edited_resize IMG_2679 edited c_resize IMG_2681_resize

 

Photos (C) by Mas Jiwo Pogog. Hak cipta dilindungi undang-undang.

Posted in Ponorogo, Reyog | Tagged , , , , | Leave a comment

Jogoboyo Desa Pogog

Jogoboyo Desa Pogog

Pakaian Jogoboyo atau pemuda penjaga pedesaan. Pakaian seperti ini biasa dikenakan sewaktu jag desa atau mengikuti ronda kampung.

Image | Posted on by | Leave a comment

Pisang Pogog

Pisang Pogog

Image | Posted on by | Leave a comment

Tamu Pogog: Bapak Ibu Dosen Fak Pertanian UNS Surakarta

Kesah lalu… jar buhan Banjar. Kisah lama… kata orang Banjar(masin).

Sekedar share foto cerita lalu. Tepat satu tahun yang lalu kami-kami di desa Pogog mendapati kunjungan persahabatan ibu Padmaningrum Dwiningtyas bapakWidiyanto Kirno Atmojo dan rombongan dari FP UNS Surakarta. Rasanya? Senang sekali. Sebab, dulu aku bisa sampai di desa Pogog ini karena aku dikirim oleh UNS almamaterku untuk menjadi mahasiswa KKN di desa ini selama 2 bulan. Dan kini, aku dikunjungi rekan-rekan bapa ibu dosen dari UNS almamaterku di sini, di desa Pogog ini. Senang bukan? Jadi nyambung lagi cerita dan silaturahminya.

Rombongan dari Fakultas Pertanian UNS - Universitas Sebelas Maret Surakarta

Aku KKN pertama kali di Pogog ini… Ooohh.., itu sudah lama sekali kejadiannya… Tahun 1993.

Dan hingga kini (2013) ternyata aku masih menjadi ‘mas-mas KKN’ di desa itu dengan melakukan serangkaian aksi pemberdayaan di sana. Meski cuma aksi ‘sekelas mas-mas KKN’ tapi lumayanlah pergerakan dinamikanya. Kita tanam pepaya, tanam asam manis, menanam durian, kita bikin (dan sedang menuju desa wisata durian Montong), kita bikin perpusatakaan desa, bikin pengairan pralon sepanjang 4 km, bikin desa pembibitan (terhenti karena kita tak cukup punya air untuk siram), bikin ayamisasi (terhenti sementara), bikin sumur resapan sistem bronjong babi, tebar hewan Qurban di desa tepat sasaran, aksi sayang alam, dll …

Ternyata sudah cukup banyak hal yang terjadi di sana selama ini ya?

Aku memulai ‘aksi KKN’ kedua ini sejak tahun 2007. Khusus untuk tebar hewan Qurban aku memulainya sejak tahun 2004.

Demikian sedulur warta dari desa Pogog kali ini.

(Sebetulnya aksi KKN serupa – meski cuma aksi pepayanisasi dan itu juga cuma kecil sekali bentuknya juga telah menjangkau provinsi Jawa Timur sejak tahun 2010. Khususnya di kabupaten Ponorogo. Tepatnya di desa Sidowayah dan Gelang Lor. Tapi aku belum pernah bercerita atau sekedar share berita di sini).

Salam,

_/\_

Mas jiwo pogog

(Facebook) link terkait:

sayang alam: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2829043693081&set=a.1101860714586.17724.1468758503&type=3&theater

desa wisata durian: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2723471253836&set=a.1101860714586.17724.1468758503&type=3&theater

pralon 4km: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2305337600756&set=a.1101860714586.17724.1468758503&type=3&theater

bronjong babi sumur resapan:https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2266885199470&set=a.1101860714586.17724.1468758503&type=3&theater

ayamisasi: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2291268089027&set=a.1101860714586.17724.1468758503&type=3&theater

pembibitan: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2307773301647&set=a.1101860714586.17724.1468758503&type=3&theater

asam manis : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1821871554407&set=a.1101860714586.17724.1468758503&type=3&theater

reyoger: https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1806653493965&set=a.1101860714586.17724.1468758503&type=3&theater

pepayanisasi : https://masjiwopogog.wordpress.com/2010/09/01/a-must-read-blog-page-pepayanisasi-siapapun-bisa-melakukannya/

perpustakaan: https://masjiwopogog.wordpress.com/2010/09/19/perpustakaan-desa-pogog-tertinggi-dan-gratis-di-gn- lawu/

1000 durian montong desa wisata :https://www.facebook.com/note.php?note_id=83566530869

Posted in Dinamika Pogog, Kalimantan, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Desa Pogog For Go Green Kalimantan 2012

Image

Aku mendorong sekali bagi gadis ini untuk selalu terlibat dan berpartisipasi dalam mewujudkan Kalimantan Go Green 2013. Aku mendorong sekali – ke depan, gadis ini untuk secara aktif dan lebih mandiri menghijaukan tanah leluhurnya di sebranglautan sana tempat kakek nenek dan leluhurnya berasal, tempat kai datuk, nini datuk berasal..!

“Manusia berasal dari tanah. Kalau mau hidup tentram, aman dan bahagia maka manusia harus berakrab dengan tanah. Bercocok tanam itu salah satu cara kembali dan akrab dengan tanah. Anak ini harus diajari tata cara bercocok tanam yang baik. Tanah dan air adalah unsur utama bumi yang seharusnya didekatkan serta diakrabkan dengan generasi ke depan. Aku setuju Mas Jiwo..!” kata si Bugel sahabatku menunjukkan kesetujuan dan dorongannya.

“Minta rokoknya Mas…!” katanya lagi..!

Hmmm, baindewai, langkah awal dimulai tahun 2013 ini.
Dan, di foto ini adalah baru sebagian – baru sekitar 2.000an bibit dari sekitar 5.000 bibit yang direncanakan untuk di tanam di Kalimantan. Saat ini bibit baru masuk tahap pembesaran sampai bulan Oktober 2013 setelah baru saja keluar dari inkubator selama 30 hari.

Salam,

_/\_

@masjiwopogog

Posted in Dinamika Pogog, Kalimantan, Uncategorized | Tagged | Leave a comment

Trenggalek Lomba Durian

trenggalek lomba durian

Live from Trenggalek – Jatim:
Kontes durian Jatim.
Salah satu cara terbaik untuk belajar, mengenal dan mencari teman sesama durianers..!

Berita selanjutnya… nanti ya kalau aku sudah sampai ke solo (ke rumah).

Salam,

_/\_

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Durian Ripto Trenggalek

durian ripto trenggalek

Live report from Trenggalek (again). Emang kemarin (18/3/2013) aku bersama ketua kelompok tani desa Pogog, kang Rimo, meluncur ke ujung selatan kabupaten Trenggalek (Jatim) yang berjarak sekali tempuh hampir 200km dari desa Pogog tempat tinggal kang Rimo atau berjarak hampir 500km dari Solo tempat aku tinggal untuk beberapa keperluan, salah satunya belajar dan mengetahui secara langsung juga merasakan dan menanam bibitnya tentu aja atas satu varietas durian yang betul-betuk t-o-p… top banget deh pokoknya: durian RIPTO. Nah, foto ini adalah saat tim Pogog bersama simbah RIPTO pemilik PIT durian Ripto di kecamatan Watulimo kabupaten Trenggalek yang sudah mendapatkan sertifikasi dari pemerintah sebagai durian lokal unggulan sejak tahun 2005. Jadi karena signal di sana saat itu putus nyambung – akupun bahkan tidak tahu kalau foto ini sukses ter-up-load, juga juga untuk menghemat waktu aku kalau sempat menulispun pasti juga cuma sebaris kata-kata. Demikian report live yang delay dari Trenggalek.

“sebentar Mas Jiwo, tadi disebut pal Ripto sebagai pemilik PIT durian Ripto, tolong jelaskan PIT itu apa, sebab tidak semua orang lulusan Sastra dan tahu artinya” kata si Bugel sahabatku, sahabat imajinerku.

“PIT itu bukan salah satu istlah dalam dunia kesastraan sahabatku. Selama aku kuliah di sana dulu semumur-umur aku juga tidak pernah sekalipun mendengarnya. PIT itu justru satu istilah milik fakultas sebelah, fakultas Pertanian. Dan, PIT itu maksudnya Pohon Induk Tunggal. PIT Ripto artinya pohon induk tunggal durian Ripto yang aseli atau pohon indukan pertama dari varietas Ripto yang selanjutnya varietas itu diperbanyak untuk dijadikan bibit durian ungguk dan dilepas -maksudnya di jual kepada masyarakat sebagai bibit yang bisa dipertanggung-jawabkan keunggulan dan keasliannya.Demikian berow… semoga paham” kataku.

“Orang Sastra itu kalau menjelaskan satu istilah ilmiah jadinya malah ngelantur dan bertele-tele..!” kata si Bugel lagi….

sebelumnya, pada tanggal 7 Maret 2013 atau seleih 10 hari sebelumnya kita juga mengadakan perjalan ke Trenggalek untuk sesuatu yang sama dan berbeda tujuan tapi intinya : belajar menanam dan mengenal tanaman..

Posted in DURIAN | Tagged , | Leave a comment

Lomba Durian Candi Mulyo Magelang Jawa Tengah

candimulyo magelang lomba durian

Live from Candimulyo, Magelang, Jawa Tengah: Lomba Durian Lokal Unggulan.

Ada yang menonjol dari jenis durian lokal unggulan di sini: warna kulitnya di dominasi kuning terang ke kuning golkar yg dari sisi tampilan lebih menarik. (Meski warna lain bukan berarti tidak menarik. Warna dominan di Kalimantan kehijauan sedang di Ponorogo Gn. Wilis Jatim dominasinya coklat muda ke coklat gelap).

Salam desa…

_/\_

Mas Jiwo Pogog

Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

Bersama Mbah Duren

mbah duren

Bersama seorang Master tanpa titel, seorang Profesor tanpa gelar.

Kecakapan dan kemampuannya dalam hal pembudidayaan berbagai tanaman buah unggulan patut aku acungi jempol.

Empat sekaligus.

Perjalanan waktu yang telah ditempuh dalam menemukan ilmu sejati telah menghantarkannya menuju gerbang keterbukaan rahasia ciptaan Ilahi.

Berbagai percobaan dan jenis-jenis perlakuan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun, kini hasilnya semua ilmu itu seakan telah menyatu dengan genetis dalam raganya.

Beruntunganya aku, beliau ini adalah salah satu guruku dalam hal budidaya durian unggul.

Beliau adalah simbahku sekaligus teman baikku.

Doa terbaik untuk simbah..!

Salam,

_/\_

Mas Jiwo Pogog

(Latar belakang adalah ‘sungkup’ bahasa lokal Jawa-nya atau inkubator sebagai media penyimpan hasil budidaya durian unggulan yang telah dikerjakan untuk dikembangbiakan di dalamnya selama satu bulan. Di dalamnya terdapat 5.000 hasil budidaya durian unggul yang rencananya untuk keperluan penanaman di Kalimantan pada tahun 2013 ini)

Posted in Dinamika Pogog, Indonesia Tetapi..., Kalimantan | Leave a comment

Konco Pogog dari Chile, Kang Rodrigo

rodrigo chile latin america

Kedatangan tamu dari Amerika Latin, dari Chile, katanya: (dalam bahasa Spanyol yang tak aku pahami… kurang lebih artinya yang aku dapat dari teman penerjemah)

“Mas Jiwo, pada kunjunganku berikutnya ke Indonesia nanti…, pleaseeee… ajak aku datang ke desa Pogog naik motor…!”

“Vamooosss…” kataku, “vamos a ir a la fábrica”… kataku lagi sekenanya hahahaha….

salam

_/\_
@masjiwopogog

Posted in Dinamika Pogog | Leave a comment