
[Tulisan di bawah ini ditulis pada bulan Oktober 2010 di mana saat hujan tidak pernah berhenti meski seharusnya pada bulan itu adalah masa puncak musim kemarau tahun itu]
—————————————————————————————-
Pemberitahuan kepada sidang pembaca yang budiman bahwa tulisan di bawah ini terlalu panjang untuk dibaca dan bukan sesuatu yang menarik untuk ditelaah lebih jauh kecuali kamu menyukai atau pemerhati masalah sosial.
Perhatiiin masalah? No way…!
Okey, yang gak suka baca silahkan ganti page lainnya. Yang akan tetap terus… ayoooo..!
Dan pastikan untuk membaca teksnya secara utuh seluruh isi dari tulisan ini sehingga tidak mendapati pemahaman sepotong-sepotong yang karenanya justru akan menimbulkan keresahan.
Atau baca dulu alenia terakhir dari tulisan ini yang terletak jauh ke bawah, yakni baca tentang “peringatan’ akan resiko membaca tulisan ini di bawah sana.
Mari kita mulai.
Melihat berita di TV terjadi tawuran antar warga di Makasar disusul kerusuhan etnis Tarakan kemudian perang antar gangster Jakarta, perang rebut benar antar keyakinan. Juga berita mengenai anggota dewan yang semakin tidak amanah, pelaku birokrasi membuat kebijakan publik yang semakin menjauhkan masyarakat dari rasa keadilan… dll-dll.
Dalam hati saya berkata: “Hai sedulur semua… ayo hentikan pertikaianmu, hentikan semua yang mubadzir itu..! Ingat dalam waktu dekat
kita semua akan mengalami masa-masa buruk. Masa penurunan hasil bumi. Tahun 2012 akan terjadi paceklik pangan..! Saatnya kita semua perlu rukun kembali, perlu konsentrasi serta menyatukan visi dan langkah bersama-sama untuk menghadapi masa paceklik itu. Jangan sampai tidak siap kalau tidak mau menderita di kemudian hari”.
“Apa persiapanmu menghadapi masa paceklik pangan 2012 nanti?”
Perlu saya jelaskan..! Saya bersama-sama warga desa Pogog percaya bahwa tahun 2012 akan terjadi bencana pangan sebagai akibat dari fenomena alam dan anomali cuaca. Anomali cuaca yang datang akhir-akhir bukan tidak berarti ada apa-apanya. Ini adalah tanda, ini adalah pertanda awal dari satu keadaan yang buruk kemudian hari.
Lewat serangkaian pembahasan dan dialog, khususnya petani yang tergabung di kelompok tani pepaya desa Pogog, data juga didukung serangkaian ‘penelitian’ cara Jawa dengan menggunakan ilmu titen, ditambah pengamatan terhadap hasil komoditi pertanian akhir-akhir ini dikuatkan bukti empirik dalam skala luas yang bisa dilihat di alam sekeliling akan fenomena alam yang ekstrem dan tidak wajar maka kita semua sepakat dan meyakini satu kesimpulan bahwa tahun 2012 adalah tahun puncak paceklik pangan dan tahun 2011 ini adalah waktu tersisa untuk memperkuat ketahanan pangan sebelum memasuki paceklik sesungguhnya.
Masih ada waktu satu tahun untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi masa sulit itu.
Masa persiapan yang setahun itu sendiri sudah merupakan masa sulit karena kita sudah memasuki masa-masa awal atau prolog dari masa paceklik itu sendiri. Prolog dari semua ini adalah gejala anomali cuaca. Padahal masa persiapan itu sendiri sudah diincar potensi hama parasit yang relatif akan bertahan lebih panjang menyerang.
Sedulur.., pasti timbul pertanyaan pada diri anda sekalian, kenapa kita di desa Pogog ini mempercayai akan hal itu? Apa dasar pemikirannya? Sesederhana itu alasan di atas itukah? Ataukah ini semua cuma othak-athik gathuk-nya wong Jowo atau cuma sekedar gugontuhon, klenik, wangsit atau sebangsanya?
“Bukan itu sedulur..! Ini bukan gaya othak-athik gathuk, gugontuhon, klenik, wangsit!”
Ini semua adalah ilmiah kuno yang didasari pengamatan dan olah rasa para konco tani dalam mencoba memahami kejadian aktual sekarang ini. Ini yang disebut ilmu titen, ilmunya orang Jawa kuno yang sudah teruji. Terbukti lewat serangkaian kejadian nyata sejak jaman nenek moyang dulu. Ilmu ini menjadi ‘ilmiah’ meski alat peraga dan pengujinya sangat sederhana atau bahkan ‘primitif’.
Kaidah ilmiah modern sudah mendeskripsikan bahwa semua kejadian yang sifatnya berulang, dialami dan diakui oleh orang banyak meski belum diuji secara ilmiah dengan alat ukur atau parameter terkini sudah bisa dikatakan sebagai sesuatu yang ilmiah.
Yang menjadi titik penting dalam ilmu titen bukanlah akurasi alat peraga dan pengujinya tetapi adalah serangkaian kejadian yang berulang-ulang yang telah terjadi sehingga masyarakat menjadi ‘titen’ atau ‘awas’ sehingga mereka ‘mengenali dan menghafal dengan jelas serta menandai gejala itu’ sebagai kejadian yang bisa diprediksikan yang segaris dengan cara-cara dan kaidah ilmiah modern saat ini.
Kata [titen] dalam bahasa Jawa artinya [awas], [mengenal], [menandai] & [hafal].
Apa yang mendasari adanya prediksi paceklik 2012 itu?
Orang Jawa sudah ‘me-niten-i’ gejala apa saja?
Pertama adanya fenomena alam yang berupa badai matahari atau badai flare yang ramai dibicarakan dan dimuat di beberapa media elektronik.
Badai ini mempunyai masa periodikisasi kejadian selama 10 tahun sekali dan tahun depan jatuh pada tahun 2012. Secara coro bodon, gampanganya, badai matahari yang terjadi akibat ledakan pada permukaan matahari ini akan mengakibatkan terjadinya ‘jilatan’ lidah api menjadi lebih panjang dari biasanya. Hal ini mengakibatkan pemanasan yang diterima bumi menjadi semakin besar dan selanjutnya menjadikan bumi ‘semakin kering’. Ini cara bodon, caranya orang bodoh dalam memahami satu fenomena tertentunya.
Beberapa kali saya meminta kepada warga desa untuk mengingat kembali semua peristiwa yang terjadi pada tahun Masehi di mana berakhiran angka ‘2’ di belakangnya.
Dari tahun 2012… di tarik mundur 10 tahun kebelakang dan seterusnya… maka didapat angka 2002, 1992, 1982, 1972, 1962 dan tahun 1952… dst.
Saya memperoleh data dan beberapa fakta dari ‘responden’ yang menunjukan bahwa benar mereka merasakan, menyaksikan dan mengalami sendiri bahwa di tahun-tahun itu merupakan tahun dengan kemarau panjang dan sulit air sehingga mengakibatkan paceklik.
Dari sekian deret tahun itu yang paling fenomenal adalah tahun 1962 di mana para petani dengan sangat jelas dan meyakinkan bahwa di desa Pogog ini banyak terjadi penyakit busung lapar. Mereka menandainya sebagai tahun HO atau Hunger Oedeem. Mereka hafal sekali akan peristiwa yang terjadi sebelum peristiwa Gestok G 30 S PKI itu.
“Tahun 1962, sebelum peristiwa Gestapu / G 30 S PKI terjadi paceklik karena kemaraunya sangat panjang, banyak orang kena HO” kata mereka.

Di lain sisi, saya secara pribadi bisa menunjukkan dan menambahkan bahwa pada tahun 1902pun, meski bukan di Nusantara tetapi di belahan bumi lain di Timur Tengah sana juga terjadi paceklik pangan sebagai akibat kemarau yang panjang. Hal ini bisa dilihat dan dibaca pada novel kisah nyata karya H.C. Armstrong yang berjudul “Sang Penjagal: Kisah Ibn Saud Mengusai Arabia” pada halaman 84 alenia pertama. Disitu dituliskan sebagai berikut: “Mereka bolak-balik berperang sepanjang akhir tahun 1902 dan awal 1903 sampai kemarau panjang dan paceklik pada tahun itu…”
Sementara data empirik di lapangan pada saat ini – tahun ini – juga menunjukan bahwa benar telah terjadi penurunan produksi semua hasil bumi sebagai akibat adanya cuaca esktrim.
Yang langsung saya amati dan fenomenal adalah gagalnya panen padi di Jawa secara masif pada musim tanam Agustus – September 2010. Kegagalan panen ini disebabkan datangnya hama wereng yang (salah satu) terbesar dalam sejarah petani Jawa yang menyerang tanaman padi hampir merata di seluruh pulau. Hama wereng yang datang dalam sekala besar ini sebagai akibat dari panjangnya musim penghujan pada tahun ini.
Anomali adalah satu ketidak-wajaran.
Anomali cuaca adalah cuaca yang datangnya tidak wajar.
Sesuatu yang tidak wajar itu pasti mendatangkan bencana.
Itu kuncinya.
Di desa Pogog, hujan yang datang pada musim yang bukan musimnya terbukti telah menjadikan buah pepaya hasil budidaya kami di desa Pogog berubah genetiknya. Kita telah mempunyai bukti dari hasil panen sebelumnya pada kebun dan pohon yang sama di mana hasil pepaya kami warga desa secara mayoritas sebanyak 90% hasil pepaya kita berupa hasil pepaya hemaprodit sedangnya 10% lainnya pepaya betina. Sekarang angka berubah menjadi 55% hemaprodit dan 45% betina.
(Perubahan bentuk yang bersifat genetis ini terjadi persis seperti yang pernah disampaikan Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati MS, seorang dosen dari IPB Bogor ketika berkunjung ke desa Pogog tahun 2008 dihadapan para petani “baru’ pepaya).
Pepaya hemaprodit yaitu pepaya yang memiliki bentuk buah panjang dan memanjang dan memiliki nilai jual yang tinggi karena bentuknya yang sempurna serta memiliki daging buah yang tebal dengan rongga udara di dalamnya cuma sedikit. Tetapi cuaca ekstrim yang terjadi di Pogog telah merubah pepaya-pepaya petani menjadi pepaya betina yang berbentuk bulat dengan lebih banyak rongga udara lebih banyak serta daging buah yang lebih tipis. Hal ini tentu saja memiliki nilai jualnya menjadi rendah. Begitu pula dalam hal berat jenis yang karena banyak berongga udara maka pepaya menjadi lebih ringan yang selanjutnya petani menjadi rugi karena timbangan hasil buah menjadi sedikit begitu juga hasil penjualannya.
Masih di Pogog, hujan yang datang berkepanjangan menjadikan tanaman ubi jalar ([telo] – Jowo – Red) milik warga menjadi tidak karuan dan aneh yakni tidak mengeluarkan hasil sedikitpun meski daunnya justru tampak tambah segar menghijau karena seringnya mendapat kiriman hujan.
Di desa lain, desa Blimbing, Gatak, Sukoharjo Jateng, hujan yang ‘tetap’ datang meski sudah masuk bulan kemarau yakni bulan Agustus terbukti menjadikan petani bingung dan ragu untuk menanam jagung meski sejatinya ini adalah masa yang tepat untuk itu. Petani menjadi ragu dan takut karena jagung tidak bisa ditanam ketika tanah terlalu dingin karena kebanyakan air yang nantinya justru akan membusukan benih jagung di dalam tanah.
Lebih bingung dan takut adalah petani dataran rendah (di bawah 400 dpl) petani menjadi lebih takut karena lahannya pasti lebih basah dan jikalau dipaksakan ditanam maka bibit jagung yang disemai bukan saja menjadi busuk karena terendam… tetapi bisa saja bibit-bibit jagung itu hanyut dibawa banjir..!
Di Ponorogo, Jatim, hujan salah musim ini juga terbukti telah mengurangi hasil produksi buah mangga. Bagaimana tidak? Ikuti penalaran ini: pohon mangga berbunga pada bulan Agustus – September (saat cuaca mbedhidhing – Jawa, cuaca kering, tidak ada hujan dan hawanya dingin) dan itu merupakan waktu yang tepat dan sempurna untuk penyerbukan. Penyerbukan memerlukan cuaca kering seperti saat mendhidhing itu. Tetapi hujan telah merusaknya karena bunga menjadi terlalu basah selanjutnya bunga tak terbuahi dan selanjutnya… bungapun berguguran. Hasil buah berkurang.
Di depan rumahku di Gawok – Solo, pada pohon mangga milik pak Sukino yang biasanya berbuah sangat lebat sampai-sampai terkadang batang atau ranting pohon itu sampai patah karena terlalu banyaknya buah… sekarang ini pohon itu buahnya cuma jarang-jarang..!
Di Wonolelo, Boyolali, Jateng sisi barat lereng gunung Merapi Jateng, bulan September dan Oktober seharusnya menjadi bulan panen raya buah tomat. Tetapi lagi-lagi… produksi tomat gagal maka tidak ada panen raya tomat untuk tahun ini.
Di Keposong, Musuk, Boyolali di lereng gunung Merapi sisi timur, buah durian juga akan berkurang pada musim panen tahun ini nantinya karena kasus yang sama.
Di atas waduk Kedung Ombo (Boyolali-Sragen-Purwodadi) petani karamba jaring apung juga merugi karena banyaknya ikan peliharaannya yang mati sebagai akibat besarnya ‘air baru’ yang masuk ke dalam waduk bendungan.
Ikan tidak menyukai habitatnya yang banyak digelontor banyak-banyak air hujan, air inilah yang disebut ‘air baru’ yang tingkat keasamannya masih tinggi yang bisa bikin ikan ko’it. Saya tahu hal ini sebab saya pernah menjalani sebagai petani ikan jaring apung di waduk Kedung Ombo selama 2 tahun.
Bahkan produk buah kurma dari Tunisia yang dapat kita jumpai di pasar supermarket yang terkenal lezat dan baikpun pada tahun ini hasil panennya menurun secara kwalitasnya.
Di pasar atau di depat buah di pinggir jalan, harga jambu air yang biasanya mencapai harga Rp.18.000 per kilo dan hanya dijual dipasar modern dan supermarket sekarang jambu air itu merana karena harganya menjadi cuma Rp.5.000 per kilo dan dijual di pasar becek lagi..! Meski untuk ukuran, warna dan bentuk yang sama dengan tahun lalu. Kok bisa? Semua itu karena rasanya yang berubah drastis dari jambu air yang manis segar menjadi jambu yang hambar tak berasa… hambar karena banyak tersiram air hujan.
Kembali ke Pogog, pepaya milik warga pernah tidak laku dijual karena hujan turun terus menerus hampir selama dua minggu di daerah pangsa pasar pepayanya. Begini ceritanya, orang mengkonsumsi pepaya karena pepaya bisa menyegarkan tenggorokan dan tubuh mereka. Dengan datangnya hujan selama dua pekan di daerah mereka, maka hawa diluar menjadi dingin dan orang tidak perlu lagi mencari pepaya lagi untuk pendingin dan penyegar sebab hujan telah menyegarkan tubuh mereka.
Dan lain-lain.. dan lain-lain..!
Ternyata cerita ini menarik juga khan? Nyatanya sampeyan masih membaca sampai alenia ini. Membaca sesuatu yang “nyata” selalu lebih menarik meski untuk isi berita yang mungkin kurang bagus.
Okey, dilanjut lagi..!
Bukankah masa paceklik itu sudah dimulai dari sekarang dengan diawali adanya anomali cuaca yang telah jelas mengurangi semua hasil bumi petani?
Jumlah penduduk yang terus bertambah dan semuanya masih memerlukan makanan, tentu saja demikian, sementara itu hasil pertanian dan nelayan justru semakin berkurang, ini artinya?
Artinya ya, kita akan mengalami masa paceklik pangan, makanan jadi mahal atau bahkan yang lebih buruk lagi… kekurangan.
Sudah siap menghadapi semuanya itu?
Coba lihat lagi berita dan fenomena di sekeliling.
Secara skala jauh yang terjadi di jauh sono kita bisa melihat adanya fenomena mencairnya es di kutub Antartika, pecahnya sebuah gunung es dengan massa jutaan meter kubik dan mencair yang beritanya sering kita jumpai di media eletronik.
Atau periksa yang terjadi di kawasan Nusantara sisi timur sana, tepatnya di kepulauan Maluku di mana terjadi pemanasan permukaan air laut sejak pertengahan tahun ini. Baca data pendukung di Kompas Online di sini.
Dalam skala dekat sekitar sini aja kita dengar fenomena alam seperti mendinginnya puncak gunung Semeru (Jawa Timur) yang menyentuh titik beku yakni pada angka minus 1 derajat celsius tetapi pada sisi lain kita juga mendengar memanasnya kota Jakarta yang mencapai angka 40 derajat.
Terjadi hujan es di bulan Oktober di Lamongan, Jatim (kalau hujan es-nya itu jatuh pada bulan Januari sih gak heran).
Perubahan cuaca esktrim dalam satu hari dapat terjadi dalam hitungan beberapa jam saja dan interval waktu itu semakin pendek, pagi bisa cuacanya sangat cerah tetapi siangnya turun hujan sangat lebat.
Untungnya?
Memang ada untungnya dengan datangnya hujan yang melimpah hampir sepanjang bulan tahun ini yakni – salah satunya – PLN tahun ini tidak akan mengalami kekurangan debit air untuk menggerakan trubin pembangkitnya. Jadi tidak perlu lagi dengan adanya pemadaman bergilir (khususnya yang di Jawa).
Kembali ke masalah persiapan menjelang paceklik, apa yang mesti dilakukan?
1. Perkuat kemandirian ekonomi keluarga. Caranya tanamilah setiap jengkal tanah di sekitar anda. Fungsikan halaman rumah sebagai cadangan ekonomi keluarga dengan menanam sayuran atau sejenisnya. Seperti diketahui bahwa selama ini kita semua hampir melupakan kekuatan ekonomi yang terlupakan: halaman rumah..!
2. Peliharalah beberapa jenis unggas di lingkungan tempat anda tinggal selama tidak mengganggu lingkungan. Peliharalah ayak atau bebek di mana kita bisa memanfaatkan telurnya sekaligus dagingnya.
3. Sekiranya ada lahan sedikit lebih luas maka tanamilah dengan buah-buahan dengan masa berbuah jenis sedang, misalnya pepaya yang butuh masa panen perdana selama 9 bulan. Ini akan membantu sekiranya masa sulit pangan melanda. Atau kalau di ladang tanamilah dengan jagung atau padi gogo atau bisa juga ubi-ubian. Saya tidak tahu cara budidaya semua itu? Jangan kuatir ke-4 komoditi itu adalah jenis tanaman yang paling mudah dan tidak begitu memerlukan perawatan dan ilmu yang mumpuni, kecuali pepaya yang sedikit lebih rumit.
4. Memelihara kambing juga OK selama anda masih punya waktu untuk mengusahakan pakan dan tempatnya.
5. Peliharalah kelinci khusus jenis pedaging yang bisa menjadi alternatif setelah daging unggas.
6. Apapun… perkuatlah kemandirian stock pangan anda sesuai dengan kondisi geografis dan alam sekitar anda. Pastikan kita tetap fokus untuk bisa melewati masa sulit itu dengan tidak kurang satu apa atau paling tidak kita memiliki persiapan tertentu dan itu lebih baik daripada tidak tahu dan tidak siap sama sekali..!
7. Dan mulailah berhemat didalam segala bidang..!
Himbauan..!
Ceilah… gayanya kayak pejabat aja..! Biarin..!
Saya Mas Jiwo Pogog, sedulurmu dari desa Pogog, lereng gunung Lawu selatan Wonogiri, Jateng menghimbau kepada segenap konco, sedulur, sanak kadang se-Nusantara:
“Ayo kita bangun diri kita sendiri, jangan menunggu waktu… ke depan masih penuh tantangan. Yang suka berantem… jangan lagi, konsentrasikan energimu ke hal yang lebih prinsipil dan realistis. Ayo semua bergerak mewujudkan kemandirian ekonomi di lingkungan terkecil kita, rumah tangga, manfaatkan lahan yang terabaikan dengan menanam tanaman ekonomis. Buat pak/bu pejabat, jangan berbuat tidak amanah, tunjukkan bahwa anda memang layak dijadikan wakil mereka yang betul-betul mendampingi mereka dalam masa sulit ke depan..!”
(Tulisan di atas adalah pendapat saya pribadi dan bukan untuk bermaksud menakuti-nakuti para pembaca akan sesuatu yang mungkin terjadi. Tulisan hanya berupa prakiraan yang kami yakini secara terbatas antara saya dan warga desa Pogog setelah melihat, menimbang dan mengambil kesimpulan. Sidang pembaca sama sekali diberi hak serta keleluasan yang seluas-luasnya untuk tidak mempercayainya. Tetaplah mendekat kepada Sang Pencipta supaya kita selalu mendapatkan anugerah terbaik dari-Nya).