Potong Rambut di desa KKN, desa Pogog.

photo (C) 2009 by Mas Jiwo Pogog.

potong rambut di desa pogog.

buka baju boleh, di bawah pohon or di teras boleh bersama angin sepoi-sepoi dan serba sesuai selera.

karena tidak ada tukang potong rambut yang khusus berdomisili di sana, juga tidak ada tukang potong rambut keliling yg mau jual jasa ke sana maka warga desa biasa melakukan saling potong rambut di antara mereka sendiri.

soal model potongan? jangan tanya deh! yang penting rapi dan sesaui selera si pemotong.

biayanya? paling banter barter dengan pijatan di pos ronda aja!

kalau mau bergaya sedikit, warga biasanya potong ke pasar ploso atau bukuerto tiap hari pasaran. tapi itu butuh waktu, biaya dan tenaga.

lihat gambar foto diatas, pada tubuhnya mereka tidak ada lemak-lemaknya. biar sudah tua tidak gemuk dan masih berotot.

lokasi desa pogog, tengger, puhpelem, wonogiri, jateng perbatasan dengan kabupaten ponorogo jatim

Posted in Pogog: Over View | Tagged , , , , | Leave a comment

SAYA PERCAYA, TAHUN 2012 TERJADI PACEKLIK PANGAN

[Tulisan di bawah ini ditulis pada bulan Oktober 2010 di mana saat hujan tidak pernah berhenti meski seharusnya pada bulan itu adalah masa puncak musim kemarau tahun itu]

—————————————————————————————-

Pemberitahuan kepada sidang pembaca yang budiman bahwa tulisan di bawah ini terlalu panjang untuk dibaca dan bukan sesuatu yang menarik untuk ditelaah lebih jauh kecuali kamu menyukai atau pemerhati masalah sosial.

Perhatiiin masalah? No way…!

Okey, yang gak suka baca silahkan ganti page lainnya. Yang akan tetap terus… ayoooo..!

 Dan pastikan untuk membaca teksnya secara utuh seluruh isi dari tulisan ini sehingga tidak mendapati pemahaman sepotong-sepotong yang karenanya justru akan menimbulkan keresahan.  

Atau baca dulu alenia terakhir dari tulisan ini yang terletak jauh ke bawah, yakni baca tentang “peringatan’ akan resiko membaca tulisan ini di bawah sana.

Mari kita mulai.

Melihat berita di TV terjadi tawuran antar warga di Makasar disusul kerusuhan etnis Tarakan kemudian perang antar gangster Jakarta, perang rebut benar antar keyakinan. Juga berita mengenai anggota dewan yang semakin tidak amanah, pelaku birokrasi membuat kebijakan publik yang semakin menjauhkan masyarakat dari rasa keadilan… dll-dll.

 Dalam hati saya berkata: “Hai sedulur semua… ayo hentikan pertikaianmu, hentikan semua yang mubadzir itu..! Ingat dalam waktu dekat

 kita semua akan mengalami masa-masa buruk. Masa penurunan hasil bumi. Tahun 2012 akan terjadi paceklik pangan..! Saatnya kita semua perlu rukun kembali, perlu konsentrasi serta menyatukan visi dan langkah bersama-sama untuk menghadapi masa paceklik itu. Jangan sampai tidak siap kalau tidak mau menderita di kemudian hari”.

 “Apa persiapanmu menghadapi masa paceklik pangan 2012 nanti?”

 Perlu saya jelaskan..! Saya bersama-sama warga desa Pogog percaya bahwa tahun 2012 akan terjadi bencana pangan sebagai akibat dari fenomena alam dan anomali cuaca. Anomali cuaca yang datang akhir-akhir bukan tidak berarti ada apa-apanya. Ini adalah tanda, ini adalah pertanda awal dari satu keadaan yang buruk kemudian hari.

 Lewat serangkaian pembahasan dan dialog, khususnya petani yang tergabung di kelompok tani pepaya desa Pogog, data juga didukung serangkaian ‘penelitian’ cara Jawa dengan menggunakan ilmu titen, ditambah pengamatan terhadap hasil komoditi pertanian akhir-akhir ini dikuatkan bukti empirik dalam skala luas yang bisa dilihat di alam sekeliling akan fenomena alam yang ekstrem dan tidak wajar maka kita semua sepakat dan meyakini satu kesimpulan bahwa tahun 2012 adalah tahun puncak paceklik pangan dan tahun 2011 ini adalah waktu tersisa untuk memperkuat ketahanan pangan sebelum memasuki paceklik sesungguhnya.

 Masih ada waktu satu tahun untuk mempersiapkan diri untuk menghadapi masa sulit itu.

 Masa persiapan yang setahun itu sendiri sudah merupakan masa sulit karena kita sudah memasuki masa-masa awal atau prolog dari masa paceklik itu sendiri. Prolog dari semua ini adalah gejala anomali cuaca. Padahal masa persiapan itu sendiri sudah diincar potensi hama parasit yang relatif akan bertahan lebih panjang menyerang.

  Sedulur.., pasti timbul pertanyaan pada diri anda sekalian, kenapa kita di desa Pogog ini mempercayai akan hal itu? Apa dasar pemikirannya? Sesederhana itu alasan di atas itukah? Ataukah ini semua cuma othak-athik gathuk-nya wong Jowo atau cuma sekedar gugontuhon, klenik, wangsit atau sebangsanya?

 “Bukan itu sedulur..! Ini bukan gaya othak-athik gathuk, gugontuhon, klenik, wangsit!” 

 Ini semua adalah ilmiah kuno yang didasari pengamatan dan olah rasa para konco tani dalam mencoba memahami kejadian aktual sekarang ini. Ini yang disebut ilmu titen, ilmunya orang Jawa kuno yang sudah teruji. Terbukti lewat serangkaian kejadian nyata sejak jaman nenek moyang dulu. Ilmu ini menjadi ‘ilmiah’ meski alat peraga dan pengujinya sangat sederhana atau bahkan ‘primitif’.

 Kaidah ilmiah modern sudah mendeskripsikan bahwa semua kejadian yang sifatnya berulang, dialami dan diakui oleh orang banyak meski belum diuji secara ilmiah dengan alat ukur atau parameter terkini sudah bisa dikatakan sebagai sesuatu yang ilmiah.

 Yang menjadi titik penting dalam ilmu titen bukanlah akurasi alat peraga dan pengujinya tetapi adalah serangkaian kejadian yang berulang-ulang yang telah terjadi sehingga masyarakat menjadi ‘titen’ atau ‘awas’ sehingga mereka ‘mengenali dan menghafal dengan jelas serta menandai gejala itu’ sebagai kejadian yang bisa diprediksikan yang segaris dengan cara-cara dan kaidah ilmiah modern saat ini.

 Kata [titen] dalam bahasa Jawa artinya [awas], [mengenal], [menandai] & [hafal].

 Apa yang mendasari adanya prediksi paceklik 2012 itu?

  Orang Jawa sudah ‘me-niten-i’ gejala apa saja?

 Pertama adanya fenomena alam yang berupa badai matahari atau badai flare yang ramai dibicarakan dan dimuat di beberapa media elektronik.

Badai ini mempunyai masa periodikisasi kejadian selama 10 tahun sekali dan tahun depan jatuh pada tahun 2012. Secara coro bodon, gampanganya, badai matahari yang terjadi akibat ledakan pada permukaan matahari ini akan mengakibatkan terjadinya ‘jilatan’ lidah api menjadi lebih panjang dari biasanya. Hal ini mengakibatkan pemanasan yang diterima bumi menjadi semakin besar dan selanjutnya menjadikan bumi ‘semakin kering’. Ini cara bodon, caranya orang bodoh dalam memahami satu fenomena tertentunya.

Beberapa kali saya meminta kepada warga desa untuk mengingat kembali semua peristiwa yang terjadi pada tahun Masehi di mana berakhiran angka ‘2’ di belakangnya.

 Dari tahun 2012… di tarik mundur 10 tahun kebelakang dan seterusnya… maka didapat angka 2002, 1992, 1982, 1972, 1962 dan tahun 1952… dst.

Saya memperoleh data dan beberapa fakta dari ‘responden’ yang menunjukan bahwa benar mereka merasakan, menyaksikan dan mengalami sendiri bahwa di tahun-tahun itu merupakan tahun dengan kemarau panjang dan sulit air sehingga mengakibatkan paceklik.

Dari sekian deret tahun itu yang paling fenomenal adalah tahun 1962 di mana para petani dengan sangat jelas dan meyakinkan bahwa di desa Pogog ini banyak terjadi penyakit busung lapar. Mereka menandainya sebagai tahun HO atau Hunger Oedeem. Mereka hafal sekali akan peristiwa yang terjadi sebelum peristiwa Gestok G 30 S PKI itu.

 “Tahun 1962, sebelum peristiwa Gestapu / G 30 S PKI terjadi paceklik karena kemaraunya sangat panjang, banyak orang kena HO” kata mereka.

Di lain sisi, saya secara pribadi bisa menunjukkan dan menambahkan bahwa pada tahun 1902pun, meski bukan di Nusantara tetapi di belahan bumi lain di Timur Tengah sana juga terjadi paceklik pangan sebagai akibat kemarau yang panjang. Hal ini bisa dilihat dan dibaca pada novel kisah nyata karya H.C. Armstrong yang berjudul “Sang Penjagal: Kisah Ibn Saud Mengusai Arabia” pada halaman 84 alenia pertama. Disitu dituliskan sebagai berikut: “Mereka bolak-balik berperang sepanjang akhir tahun 1902 dan awal 1903 sampai kemarau panjang dan paceklik pada tahun itu…”

 Sementara data empirik di lapangan pada saat ini – tahun ini – juga menunjukan bahwa benar telah terjadi penurunan produksi semua hasil bumi sebagai akibat adanya cuaca esktrim.

Yang langsung saya amati dan fenomenal adalah gagalnya panen padi di Jawa secara masif pada musim tanam Agustus – September 2010. Kegagalan panen ini disebabkan datangnya hama wereng yang (salah satu) terbesar dalam sejarah petani Jawa yang menyerang tanaman padi hampir merata di seluruh pulau. Hama wereng yang datang dalam sekala besar ini sebagai akibat dari panjangnya musim penghujan pada tahun ini.

  Anomali adalah satu ketidak-wajaran.

 Anomali cuaca adalah cuaca yang datangnya tidak wajar.

 Sesuatu yang tidak wajar  itu pasti mendatangkan bencana.

 Itu kuncinya.

Di desa Pogog, hujan yang datang pada musim yang bukan musimnya terbukti telah menjadikan buah pepaya hasil budidaya kami di desa Pogog berubah genetiknya. Kita telah mempunyai bukti dari hasil panen sebelumnya pada kebun dan pohon yang sama di mana hasil pepaya kami warga desa secara mayoritas sebanyak 90% hasil pepaya kita berupa hasil pepaya hemaprodit sedangnya 10% lainnya pepaya betina. Sekarang angka berubah menjadi 55% hemaprodit dan 45% betina.

(Perubahan bentuk yang bersifat genetis ini terjadi persis seperti yang pernah disampaikan Prof. Dr. Ir. Sriani Sujiprihati MS, seorang dosen dari IPB Bogor ketika berkunjung ke desa Pogog tahun 2008 dihadapan para petani “baru’ pepaya).

 Pepaya hemaprodit yaitu pepaya yang memiliki bentuk buah panjang dan memanjang dan memiliki nilai jual yang tinggi karena bentuknya yang sempurna serta memiliki daging buah yang tebal dengan rongga udara di dalamnya cuma sedikit. Tetapi cuaca ekstrim yang terjadi di Pogog telah merubah pepaya-pepaya petani menjadi pepaya betina yang berbentuk bulat dengan lebih banyak rongga udara lebih banyak serta daging buah yang lebih tipis. Hal ini tentu saja memiliki nilai jualnya menjadi rendah. Begitu pula dalam hal berat jenis yang karena banyak berongga udara maka pepaya menjadi lebih ringan yang selanjutnya petani menjadi rugi karena timbangan hasil buah menjadi sedikit begitu juga hasil penjualannya.

 Masih di Pogog, hujan yang datang berkepanjangan menjadikan tanaman ubi jalar ([telo] – Jowo – Red) milik warga menjadi tidak karuan dan aneh yakni tidak mengeluarkan hasil sedikitpun meski daunnya justru tampak tambah segar menghijau karena seringnya mendapat kiriman hujan.

Di desa lain, desa Blimbing, Gatak, Sukoharjo Jateng, hujan yang ‘tetap’ datang meski sudah masuk bulan kemarau yakni bulan Agustus terbukti menjadikan petani bingung dan ragu untuk menanam jagung meski sejatinya ini adalah masa yang tepat untuk itu. Petani menjadi ragu dan takut karena jagung tidak bisa ditanam ketika tanah terlalu dingin karena kebanyakan air yang nantinya justru akan membusukan benih jagung di dalam tanah.

 Lebih bingung dan takut adalah petani dataran rendah (di bawah 400 dpl) petani menjadi lebih takut karena lahannya pasti lebih basah dan jikalau dipaksakan ditanam maka bibit jagung yang disemai bukan saja menjadi busuk karena terendam… tetapi bisa saja bibit-bibit jagung itu hanyut dibawa banjir..!

 Di Ponorogo, Jatim, hujan salah musim ini juga terbukti telah mengurangi hasil produksi buah mangga. Bagaimana tidak? Ikuti penalaran ini: pohon mangga berbunga pada bulan Agustus – September (saat cuaca mbedhidhing – Jawa, cuaca kering, tidak ada hujan dan hawanya dingin) dan itu merupakan waktu yang tepat dan sempurna untuk penyerbukan. Penyerbukan memerlukan cuaca kering seperti saat mendhidhing itu. Tetapi hujan telah merusaknya karena bunga menjadi terlalu basah selanjutnya bunga tak terbuahi dan selanjutnya… bungapun berguguran. Hasil buah berkurang.

Di depan rumahku di Gawok – Solo, pada pohon mangga milik pak Sukino yang biasanya berbuah sangat lebat sampai-sampai terkadang batang atau ranting pohon itu sampai patah karena terlalu banyaknya buah… sekarang ini pohon itu buahnya cuma jarang-jarang..!

Di Wonolelo, Boyolali, Jateng sisi barat lereng gunung Merapi Jateng, bulan September dan Oktober seharusnya menjadi bulan panen raya buah tomat. Tetapi lagi-lagi… produksi tomat gagal maka tidak ada panen raya tomat untuk tahun ini.

 Di Keposong, Musuk, Boyolali di lereng gunung Merapi sisi timur, buah durian juga akan berkurang pada musim panen tahun ini nantinya karena kasus yang sama.

 Di atas waduk Kedung Ombo (Boyolali-Sragen-Purwodadi) petani karamba jaring apung juga merugi karena banyaknya ikan peliharaannya yang mati sebagai akibat besarnya ‘air baru’ yang masuk ke dalam waduk bendungan.

Ikan tidak menyukai habitatnya yang banyak digelontor banyak-banyak air hujan, air inilah yang disebut ‘air baru’ yang tingkat keasamannya masih tinggi yang bisa bikin ikan ko’it. Saya tahu hal ini sebab saya pernah menjalani sebagai petani ikan jaring apung di waduk Kedung Ombo selama 2 tahun.

Bahkan produk buah kurma dari Tunisia yang dapat kita jumpai di pasar supermarket yang terkenal lezat dan baikpun pada tahun ini hasil panennya menurun secara kwalitasnya.

Di pasar atau di depat buah di pinggir jalan, harga jambu air yang biasanya mencapai harga Rp.18.000 per kilo dan hanya dijual dipasar modern dan supermarket sekarang jambu air itu merana karena harganya menjadi cuma Rp.5.000 per kilo dan dijual di pasar becek lagi..! Meski untuk ukuran, warna dan bentuk yang sama dengan tahun lalu. Kok bisa? Semua itu karena rasanya yang berubah drastis dari jambu air yang manis segar menjadi jambu yang hambar tak berasa… hambar karena banyak tersiram air hujan.

Kembali ke Pogog, pepaya milik warga pernah tidak laku dijual karena hujan turun terus menerus hampir selama dua minggu di daerah pangsa pasar pepayanya. Begini ceritanya, orang mengkonsumsi pepaya karena pepaya bisa menyegarkan tenggorokan dan tubuh mereka. Dengan datangnya hujan selama dua pekan di daerah mereka, maka hawa diluar menjadi dingin dan orang tidak perlu lagi mencari pepaya lagi untuk pendingin dan penyegar sebab hujan telah menyegarkan tubuh mereka.

Dan lain-lain.. dan lain-lain..!

Ternyata cerita ini menarik juga khan? Nyatanya sampeyan masih membaca sampai alenia ini. Membaca sesuatu yang “nyata” selalu lebih  menarik meski untuk isi berita yang mungkin kurang bagus.

 Okey, dilanjut lagi..!

 Bukankah masa paceklik itu sudah dimulai dari sekarang dengan diawali adanya anomali cuaca yang telah jelas mengurangi semua hasil bumi petani?

 Jumlah penduduk yang terus bertambah dan semuanya masih memerlukan makanan, tentu saja demikian, sementara itu hasil pertanian dan nelayan justru semakin berkurang, ini artinya?

Artinya ya, kita akan mengalami masa paceklik pangan, makanan jadi mahal atau bahkan yang lebih buruk lagi… kekurangan.

Sudah siap menghadapi semuanya itu?

Coba lihat lagi berita dan fenomena di sekeliling.

Secara skala jauh yang terjadi di jauh sono kita bisa melihat adanya fenomena mencairnya es di kutub Antartika, pecahnya sebuah gunung es dengan massa jutaan meter kubik dan mencair yang beritanya sering kita jumpai di media eletronik.

Atau periksa yang terjadi di kawasan Nusantara sisi timur sana, tepatnya di kepulauan Maluku di mana terjadi pemanasan permukaan air laut sejak pertengahan tahun ini. Baca data pendukung di Kompas Online di sini.

Dalam skala dekat sekitar sini aja kita dengar fenomena alam seperti mendinginnya puncak gunung Semeru (Jawa Timur) yang menyentuh titik beku yakni pada angka minus 1 derajat celsius tetapi pada sisi lain kita juga mendengar memanasnya kota Jakarta yang mencapai angka 40 derajat.

Terjadi hujan es di bulan Oktober di Lamongan, Jatim (kalau hujan es-nya itu jatuh pada bulan Januari sih gak heran).

Perubahan cuaca esktrim dalam satu hari dapat terjadi dalam hitungan beberapa jam saja dan interval waktu itu semakin pendek, pagi bisa cuacanya sangat cerah tetapi siangnya turun hujan sangat lebat.

Untungnya?

Memang ada untungnya dengan datangnya hujan yang melimpah hampir sepanjang bulan tahun ini yakni – salah satunya – PLN tahun ini tidak akan mengalami kekurangan debit air untuk menggerakan trubin pembangkitnya. Jadi tidak perlu lagi dengan adanya pemadaman bergilir (khususnya yang di Jawa).

Kembali ke masalah persiapan menjelang paceklik, apa yang mesti dilakukan?

1.       Perkuat kemandirian ekonomi keluarga. Caranya tanamilah setiap jengkal tanah di sekitar anda. Fungsikan halaman rumah sebagai cadangan ekonomi keluarga dengan menanam sayuran atau sejenisnya. Seperti diketahui bahwa selama ini kita semua hampir melupakan kekuatan ekonomi yang terlupakan: halaman rumah..!

 2.       Peliharalah beberapa jenis unggas di lingkungan tempat anda tinggal selama tidak mengganggu lingkungan. Peliharalah ayak atau bebek di mana kita bisa memanfaatkan telurnya sekaligus dagingnya.

 3.       Sekiranya ada lahan sedikit lebih luas maka tanamilah dengan buah-buahan dengan masa berbuah jenis sedang, misalnya pepaya yang butuh masa panen perdana selama 9 bulan. Ini akan membantu sekiranya masa sulit pangan melanda. Atau kalau di ladang tanamilah dengan jagung atau padi gogo atau bisa juga ubi-ubian. Saya tidak tahu cara budidaya semua itu? Jangan kuatir ke-4 komoditi itu adalah jenis tanaman yang paling mudah dan tidak begitu memerlukan perawatan dan ilmu yang mumpuni, kecuali pepaya yang sedikit lebih rumit.

 4.       Memelihara kambing juga OK selama anda masih punya waktu untuk mengusahakan pakan dan tempatnya.

5.       Peliharalah kelinci khusus jenis pedaging yang bisa menjadi alternatif setelah daging unggas.

6.       Apapun… perkuatlah kemandirian stock pangan anda sesuai dengan kondisi geografis dan alam sekitar anda. Pastikan kita tetap fokus untuk bisa melewati masa sulit itu dengan tidak kurang satu apa atau paling tidak kita memiliki persiapan tertentu dan itu lebih baik daripada tidak tahu dan tidak siap sama sekali..!

7.       Dan mulailah berhemat didalam segala bidang..!

 Himbauan..!

 Ceilah… gayanya kayak pejabat aja..! Biarin..!

 Saya Mas Jiwo Pogog, sedulurmu dari desa Pogog, lereng gunung Lawu selatan Wonogiri, Jateng menghimbau kepada segenap konco, sedulur, sanak kadang se-Nusantara: 

“Ayo kita bangun diri kita sendiri, jangan menunggu waktu… ke depan masih penuh tantangan. Yang suka berantem… jangan lagi, konsentrasikan energimu ke hal yang lebih prinsipil dan realistis. Ayo semua bergerak mewujudkan kemandirian ekonomi di lingkungan terkecil kita, rumah tangga, manfaatkan lahan yang terabaikan dengan menanam tanaman ekonomis. Buat pak/bu pejabat, jangan berbuat tidak amanah, tunjukkan bahwa anda memang layak dijadikan wakil mereka yang betul-betul mendampingi mereka dalam masa sulit ke depan..!”

 (Tulisan di atas adalah pendapat saya pribadi dan bukan untuk bermaksud menakuti-nakuti para pembaca akan sesuatu yang mungkin terjadi.  Tulisan hanya berupa prakiraan yang kami yakini secara terbatas antara saya dan warga desa Pogog setelah melihat, menimbang dan mengambil kesimpulan. Sidang pembaca sama sekali diberi hak serta keleluasan yang seluas-luasnya untuk tidak mempercayainya. Tetaplah mendekat kepada Sang Pencipta supaya kita selalu mendapatkan anugerah terbaik dari-Nya).

Posted in Dinamika Pogog, Indonesia Tetapi..., Ndremimil..!, Pepayanisasi... On and On Progress, Pogog: Meet The Peoples, Pogog: Over View, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , | 4 Comments

Qurban di Desa Pogog 2008: Sebuah Moment Pembelajaran Berharga

Selama ini saya sendiri yang belanja kambing, saya bisa memilih yang terbaik sebisa yang saya kerjakan. Tetapi dengan semakin banyaknya rekan yang menitipkan Qurban di desa Pogog sekarang saya dibantu Kang Rimo dalam belanja.

Pelaksanaan penyembelihan hewan Qurban di desa Pogog pada tahun 2009 ini adalah pelaksanaan qurban tahun yang ke-6 sejak pertama kali diprakarsai sejak tahun 2004.

Lima tahun yang lalu masih banyak masjid di desa Pogog belum pernah sama sekali melaksanakan penyembelihan hewan Qurban itu meski masjid itu sudah berdiri sejak tahun 1990an atau bahkan tahun 1980an.

Saya mempelopori gerakan ini, qurban ke desa.

Pertama pelaksanaan Qurban tahun 2004, silhakn di klik link berikut (LINK 1):  http://www.flickr.com/photos/desapogog/1448887912/

Mulai dari satu ekor kambing untuk masjid Nurul Islam dan di bagi kepada 51 kepala keluarga. Bisa di bayangkan hasil bagian per-KK-nya! “Biar cuma seberat daging tupai tetap aku bagi rata kepada semua warga. Saya sampai kesulitan membaginya (karena kambing yang cuma 1 dibagi 51 orang-Red)” kata kang Rimo, takmir masjid setempat.

Tahun berikutnya, 2005, mulai bertambah peserta Qurban di Pogognya menjadi 3 ekor.

Tahun 2006 menjadi 5 ekor.

Tahun 2007 mulai di-proposalkan, hasilnya sungguh luar biasa… banyak rekan, relasi, keluarga dan rekan-rekan sesama wali murid TK, SD Al Azhar Syifa Budi Solo, dll yang berkenan untuk menitipkan hewan Qurbannya kepada saya selanjutnya saya serahkan kepada warga desa Pogog. Jumlah kambing peserta Qurban menjadi 15 ekor dan menjangkau 10 masjid di Pogog dan sekitarnya. Pelaksanaan Qurban 2007 berikut link-nya (LINK 2): http://www.flickr.com/photos/desapogog/sets/72157603891290282/

Ada satu hal yang perlu dicatat di sini, bahwa program Qurban masuk desa ini telah melahirkan kesadaran warga yang mampu untuk berqurban juga. dan sekarang ada juga yang membentuk sistem arisan yang tahun 2009 ini akan menjadi tahun ke-3 yang diadakan oleh warga sendiri.

Ada hal lainnya yang perlu disampaikan. Menjelang perayaan Qurban 2007, sebelum saya pulang sambil membawa proposal, saya minta doa restunya semoga proposal ini berhasil kepada beberapa tokoh masyarakat yang saat itu berkumpul di rumah kang Rimo. Oleh warga desa saya didoakan: “Amin” kata mereka. “Jika berhasil mendapat bantuan kambing melebihi 10 ekor maka mas Jiwo harus tidur di sini, merayakan malam takbiran bersama kita”. Saya jawab ”Isnya Alloh”… dan berhasil…! Sudah 2 kali saya merasakan malam takbiran di desa terpencil yang suasananya berbeda sekali dengan orang-orang kota. Sederhana sekali…, tidak ada konvoi takbir. Takbir kita bersama suara-suara binatang malam menyuarakan kebesaran Sang Pencipta. Justru karena itulah saya bisa memilki arti perayaan yang bagi saya justru saya cari-cari selama ini. Meski saya sadar betul bahwa selera orang tidaklah harus sama.

Dan justru sejak itu saya mengkampanyekan bagi rekan semua untuk: “… please, datang tempat yang sederhana di sekitar anda..!” Ada banyak hikmah tersimpan di sana.

Tahun 2008 yang lalu, karena saya terlalu asyik dengan pepayanisasi - mau tahu apa itu pepaynisasi, klik link berikut (LINK 3) : http://masjiwopogog.wordpress.com/2010/09/01/a-must-read-blog-page-pepayanisasi-siapapun-bisa-melakukannya/ yang saat itu baru pada tahap awal (Sept – Okt 2008), sampai saya kelupaan untuk mengkoordinir rekan-rekan yang mau ber-Qurban di Pogog. Tapi alhamdulillah, dalam 10 hari kerja bisa terkumpul 22 ekor kambing bagi warga dan menjangkau 11 masjid. Ibu-ibu pengajian Al Azhar Syifa Budi sangat membantu saya dalam hal usaha mensukseskan dan ikut mensosialisasikan kepada khalayak.

Dan saat itu saat yang berat akibat krisis ekonomi yang ternyata juga berdampak pada warga desa mengakibatkan partisipasi aktif dari warga setempat hanya satu-dua ekor saja. Jadi tidak heran walau mendapat 22 ekor kambing Qurban tetapi penyebarannya hanya 11 masjid, bandingkan tahun 2007 yang cuma 15 kambing tetapi mencapai sasaran 10 masjid.

Tahun 2009, saya tidak tahu berapa yang akan ikut dan saya sengaja tidak bikin proposal lagi. Saya hanya mengandalkan forum silaturahmi digital Facebook ini sebagai pengganti proposal.

Terima kasih bagi yang sudah pesan tempat sejak tahun lalu.

Pada Qurban tahun 2009 ini (naskah ini ditulis pada tahun 2008), kalau saya masih dipercaya, saya masih sanggup untuk menyalurkan kepada saudara-saudara di desa Pogog dan sekitarnya yang lebih tepat sasaran bagi penyebaran hewan Qurban. Saya masih sanggup untuk mencari dan mengangkat sendiri kambing-kambing pilihan itu. Saya masih sanggup menyebarkan titipan Qurban itu kepada desa-desa yang alam lingkungan termasuk daerah yang kering dan tandus yang lebih sedikit memiliki hasil budidaya panggannya.

Saat ini saya baru bisa menerima titipan Qurban senilai kambing Qurban besar dan senilai kambing Qurban sedang.

(Nilai nominalnya akan diberitahu lebih lanjut setelah tahu harga pasar dalam waktu dekat. Begitu juga nama bank, nomor rekeningnya).

(Kirimkan bukti transfer ke email: desa_pogog@yahoo.com atau via SMS ke 081-567-640-640 – SMS only. Cantumkan nama pengirim, nominal kiriman, alamat, nama yang mengadakan Qurban dengan disertai nama bin atau binti. Contoh: Ibu Sajiyem binti Karso Pawiro).

Untuk yang akan berqurban sapi, saya masih kesulitan mengkoordinir, kecuali ada yang membantu mengelola.

Titipan hewan Qurban hanya bisa dilakukan dalam bentuk uang cash via transfer. Mengapa? Kalau saya membawa kambing-kambing itu dari Solo pasti akan menambah biaya transport untuk ongkos kirimnya. Jarak tempuhnya saja 105 KM sekali jalan, sama jarak kota Solo – Semarang. Di samping itu saya juga harus punya tempat penampungan sementara. Juga, saya harus kasih pakan ternak selama transit. Selama pengiriman saya meski lapor ke posko ternak kabupaten segala.(Sebab, siapapun yang membawa ternak antar kabupaten dan melintasi pos ternak harus lapor, tidak peduli itu ternak sumbangan atau ternak untuk dijual).

Meski, sebenarnya anak saya pasti suka kalau di rumah banyak kambing transit http://www.flickr.com/photos/anungarman/2884119335/ (LINK 4)

Bila dalam bentuk uang cash, saya bisa membeli kambing di pasar di dekat desa Pogog yang lebih murah dan lebih besar untuk harga yang sama bila dibandingkan dengan membeli di kota dengan harga yang sama.

Cara ini sudah berjalan sejak tahun 2005 atau tahun ke-2 pelaksanaan Qurban di desa ini.

Bagi yang berkeinginan untuk ikut (lagi) menjadi peserta Qurban di desa Pogog dan sekitarnya, bisa menghubungi saya via personal message atau email terlebih dahulu.

Salam desa dalam persaudaraan.

Kata Qurban tidak sama dengan arti kata korban. Qurban di sini artinya mendekat, jadi dengan ber-Qurban hakekatnya adalah salah satu usaha manusia untuk bisa mendekatkan diri pada Illahi. Tradisi Qurban ini diajarkan oleh nabi Ibrohim AS.

Ingin melihat kemeriahan dan suasana desa Pogog dan sekitarnya pada perayaan Qurban tahun 2008, silahkan melihat foto-foto dukumentasi berikut ini. Satu hal lagi… bahwa semua kemeriahan ini adalah bagian dari partisipasi aktif anda dalam ber-Qurban. Terima kasih sedulur semua atas partisipasinya. Doa kami, semoga amalan itu tidak terputus selamanya dan menjadikan kita semua menjadi insan yang benar-benar ”dekat” dengan-Nya.

Masjid Nurul Islam adalah posko ke-2 dalam menjalankan program KKN didesa ini. Nampak Kang Rimo di depan masjid.

Anak-anak memakai baju terbaik mereka dan ikut bergembira.

The kambings: hewan Qurban titipan rekan-rekanku untuk warga desa Pogog.

Me and the Kambing..!

Nora sang sukarelawati bersama hasil buruannya....! Ayo, angkat sendiri... rasain bajumu berasa kambing..!

Daun jati untuk pembungkus daging Qurban, alami, irit dan ekonomis karena tidak harus membeli dan eksotis.

Besar, kecil, tua, muda... semua bergotong royong untuk kebersamaan..!

Malam sebelum pelaksanaan Sholat Ied, saya dan Kang Rimo perlu untuk membuat daftar masjid-masjid dan jumlah kambing yang tersedia.

Daftar salah satu peserta dan nama masjid penerima: untuk transparansi pelaksanaan.

Jagongan dalam rangka memeriahkan malam takbiran di desa Pogog. Cara pendekatan unik yang humanis, mengedepankan penghormatan dan memuliakan tamunya untuk diajak bersama ikut memeriahkan datangnya malam yang penuh rahmat itu.

Khusus untuk foto di atas ini ada sedikit keterangan tentang keistimewaan dari kegiatan yang terlihat seperti orang jagongan (Jawa- Red, kendurian) ini. Ini adalah salah satu bentuk cara terbaik anak manusia dalam usaha mengenalkan keimanan kepada saudara-saudara petani untuk lebih mengenal dan mendekat kepada Sang Ilahi. Lewat cara jagongan layaknya acara jagongan bayi di desa-desa. Acara ini menjadi istimewa karena jagongan kali ini adalah jagogan dalam rangka merayakan malam takbiran menyambut hari raya Qurban. Cara ini adalah original karya Kang Rimo dan cuma ada di desa Pogog. Sebuah cara yang cerdas dan menempatkan tamu secara terhormat bukan menggurui. Cara-cara yang humanis seperti ini sepertinya sudah banyak ditinggalkan karena manusia sekarang lebih seperti mie instant, maunya praktis aja, gak mau repot dan otomatis gak punya kesabaran..!

Selebihnya tentang keunikan dari jagongan tersebut yang sudah berlangsung sejak tahun 1996 itu dan selalu hadir di setipa hari perayaan keagamaan itu, temukan di klik link berikut: http://desapogog.multiply.com/journal/item/8/Merayakan_Idhul_Adha_dan_Qurban_2007_di_desa_Pogog_Ada_Jagongan_dalam_Rangka_Menyambut_Qurban

Hari masih pagi dan gunung Ampyangan kebetulan terlihat cerah. Pagi yang indah untuk hari yang indah pula.

Rombonganku berangkat menuju masjid, menyenangkan sekali bersama warga desa.

Jangan terkecoh dengan penampilanku kali ini yang mengenakan peci, saya bukanlah seperti yang anda kira, saya masih tetap cuma wong Islam abangan.

Jamaah putri di halaman masjid. Sejak 5 tahun yang lalu perayaan sholat Ied dilaksanakan di lingkungan masjid masing-masing karena cuaca dan alasan topografis lainnya.

Ibu-ibu ini banyak berperan dalam hal komsumsi khususnya bagi para bapak-bapak yang sedang gotong royong menyembelih hewan Qurban.

Para utusan jamaah dari masjid-masjid sekitar masjid Nurul Islam yang nantinya sebagai perwakilan penerima Qurban untuk disampaikan ke masjid masing-masing dusun.

Identifikasi penyumbang hewan Qurban dan wakil penerima, identifikasi ini untuk keperluan transparansi.

Identifikasi penyumbang hewan Qurban dan wakil penerima, identifikasi ini untuk keperluan transparansi.

Identifikasi penyumbang hewan Qurban dan wakil penerima, identifikasi ini untuk keperluan transparansi.

Identifikasi penyumbang hewan Qurban dan wakil penerima, identifikasi ini untuk keperluan transparansi.

Identifikasi penyumbang hewan Qurban dan wakil penerima, identifikasi ini untuk keperluan transparansi.

Identifikasi penyumbang hewan Qurban dan wakil penerima, identifikasi ini untuk keperluan transparansi.

Identifikasi penyumbang hewan Qurban dan wakil penerima, identifikasi ini untuk keperluan transparansi.

Identifikasi penyumbang hewan Qurban dan wakil penerima, identifikasi ini untuk keperluan transparansi.

Anak-anakpun juga ikut senang dan menikmati sekali hidangan daging Qurban ini. Terima kasih para sedulur... segenap partisipan tebar Qurban di desa ini. Suwun.. segala ini terwujud karena kepedulian anda..!

Daftar jumlah kepala keluarga penerima tebar hewan Qurban di desa Pogog.

Tebar Qurban di desa...! Daging yang nampak bersih dan sehat..!

Kang Laman tidak kalah gesit dan aktif dalam kegiatan ini. Mau tahu, kang Laman ini termasuk seorang jenius di desa Pogog, kang Laman ini sangat menonjol dalam dunia ide, menonjol bermain musik gamelan dan penabuh gendang yang handal, dan pencipta serangakian ide-ide unik dalam dunia elektronika.

Nora yang sukarelawati..!

Cara penyajian yang unik dan eksotis namun justru sangat ekonomis, praktis dan ramah lingkungan : daun jati..!

Mr. Agus S sang sukarelawan fotografi..!

Bagi sedulur semua yang ingin melihat foto-foto dokumentasi versi lengkap di Facebook-ku, silahkan di klik link berikut: http://www.facebook.com/album.php?aid=38376&id=1468758503&l=3dd7b0b03d

Posted in Dinamika Pogog, J'lajah Desa, Ndremimil..!, Pogog: Meet The Peoples, Pogog: Over View, Qurban di Pogog | Tagged , , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Qurban di Desa Tertinggal : Pogog, 27 November 2009 : Sebuah Transparansi

salah satu masjid di desa pogog sebelum perayaan sholai ied

Pelaksanaan penyembelihan hewan Qurban di desa Pogog 27 November 2009 berlangsung khidmat dan lancar.

Kegiatan tebar hewan Qurban di desa Pogog ini adalah kali ke-6 yang berlangsung sejak tahun 2004.

Kali ini hewan Qurban yang diamanatkan kepada saya untuk selanjutnya saya sampaikan kepada sejumlah masjid di lingkungan desa Pogog dan sekitarnya mencapai 18 ekor kambing dan disebarkan kepadaa 12 masjid.

Berikut adalah nama-nama pertisipan dan distribusi penyebaran Qurban-nya:
1. Ibu Rina Istriastuti binti Mukri Hadisiswoyo (Masjid Istoqomah, Jaten).
2.Ibu Siti Honiyah binti Sukardi Hartowijoyo (Masjid Al-Mutaqin, Grenjengan)
3. Agus Santosa bin Yono Perwito (Masjid Nurul Islam, Pogog Ndoyong)
4. Ibu Galuh Kencana binti H. Moh. Amin (Masjid Nurul Islam, Pogog Ndoyong)
5. Ari Bowo bin Yono Perwito (Masjid Nurul Islam, Pogog Ndoyong)
6. Edwin Hendra Kusuma (Masjid Al Huda, Kembang Pogog)
7. Danang Eko Putranto bin Eko Wardoyo (Masjid Nurul Islam, Pogog Ndoyong)
8. Jiwo bin Yono Perwito (Masjid Baiturrahman, Pule)
9. Nizar Ahmad Priyambodo bin Purnawan Agus (Masjid Subulum Najah, Pule)
10. Anak Panindraya Pradana SSG & Anak Ksatria Kanugrahan Wahyu bin Bambang Heru Wardiyanto (Masjid An-Nur, Sumber Kopen)
11. Muh. Reza Kurnia bin Abdul Rahman (Masjid At-Taqwa, Sumber)
12. Ibu Lidia Saulina Hutapea bin CH. PRTH Hutapea (Masjid Al-Hidayah, Sodan)
13. Ibu Agustina Niken Kusumadari binti Slamet Parto Kusumo (Masjid Istiqomah, Jaten)
14. Ibu Sri Sunarni binti Suwito Wido Suwarno (Masjid Baiturrahim, Krapyak)
15. Ibu Muhrita Teruna binti H. Teruna Ilham Bada’i (Masjid Al-Amin, Tengger)
16. Bpk. Gusti Rudy Iban Rahmani bin H. Moh. Amin (Masjid At-Taqwa, Sumber)
17. Dr. Sudibyo H. Pardi SpAn bin H. Pardi (Masjid Al Hidayah, Ngledok)
18. Bpk. Eko Purnamasidi bin Sriyatno (Masjid Baiturrahim, Krapyak)

Selaku koordinator dilapangan, saya Jajay Wahyono alias Mas Jiwo Pogog atas nama warga desa mengucapkan banyak terima kasih atas terselenggaranya acara tebar Qurban ke desa Pogog dan sekitarnya.

Sekedar informasi bahwa kegiatan tebar Qurban di desa Pogog dan sekitarnya juga dicatat dalam arsip kegiatan di tingkat kalurahan Tengger, kecamatan Puhpelem, kabupaten Wonogiri.

Salam Desa

Mas Jiwo Pogog

2009

khotbah sholat ied dan pak imam masjid, kang Rimo.

Jamaah putra di dalam masjid.

Draft daftar partisipan tebar Qurban di desa Pogog dan sekitarnya.

Kanan, tulisan di atas kertas bungkus rokok adalah daftar masjid-masjid penerima tebar Qurban.

Men In the Mission..!

Ibu-ibu warga setempat sedang menyiapkan sarapan pagi para bapak dan para kanoman yang sedang bergotong royong menyembelih hewan Qurban.

Salah satu identitas penyumbang dan masjid penerimanya, salah satu bentuk laporan transparansi pelaksanaan.

Suasana merih dan masjid menjadi ramai...! Kemeriahan ini ada karena partisipasi anda sekalian, terima kasih atas segalnya dan kita berdoa semoga ini akan menjadi amalan yang baik bagi anda dan keluarga.

Relawan foto in action..!

Siap untuk pelaksanaan penyembelihan Qurban.

Daging yang sudah dikumpulan selanjutnya dipotong menjadi kecil-kecil untuk dibagikan bagi mereka yang berhak.

Selalu saja dan hampir tipa hari berjumpa dengan orang ada yang memakai baju reyog di desa Pogog ini.

Saatnya pembagian hewan Qurban.. memakai alas dan pembungkus dari daun jati.

Posted in Dinamika Pogog, J'lajah Desa, Ndremimil..!, Pogog: Meet The Peoples, Pogog: Over View, Qurban di Pogog, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Sweet Tamarind / Asam Manis Dibudidayakan di Pogog Oktober 2010: Saat Ini Mungkin Kita Yang Terbesar.

 

BALIHO menuju persiapan pepayanisasi tahap ke-3 dan asem Syekh Jangkung

Teruntuk semua warga komunitas digital sahabat desa Pogog yang baik…!  

Pertama, puji syukur kita panjatkan kepada Alloh Tuhan Yang Maha Esa atas karunia dan rejeki-Nya sehingga kita masih terpelihara dan perlindungan-Nya. Tak lupa semoga keselamatan dan ke-barokah-an senantiasa dilimpahkan kepada kita semua dan selalu dalam bimbingan-Nya. Amin..!  

Kedua, sekiranya perlu saya sampaikan bahwa pada bulan Oktober 2010 nanti kita semua warga desa Pogog – khususnya yang tergabung dalam kelompok petani pepaya - akan memulai musim tanam pepaya untuk tahap ke-3 dengan jumlah bibit sebanyak 6.000 bibit saja.  

Jumlah ini lebih sedikit bila dibanding musim tanam yang ke-2 tahun 2009, yakni 8.000an.  

Meski jumlahnya lebih sedikit tetapi penyebaran distribusi bibit pepaya kali ini akan menjangkau  

lebih luas yakni ke desa Ngledok, Sumber dan Krapyak serta masih ada kemungkinan ke tempat lain yang belum ditentukan. Juga jumlah petani pepaya yang terlibat juga akan semakin banyak dari tahun lalu yakni sekitar 100an petani.  

Berdasar pengalaman tanam tahun lalu, musim tanam 2010 kali ini justru untuk lebih mementingan proses pencapaian bertani dengan ber-standard SOP semaksimal mungkin atau Standard Operating Proccedure yang tepat atau bukan lagi mengedepankan kuantitas.  

Ketiga, perlu saya sampaikan bahwa bulan Oktober 2010 itu kita juga akan menanam pohon asem/asam manis. Disebut asem manis karena buah asam ini memang berasa manis segar dan tidak seperti rasa buah asam yang selama ini kita kenal yang terasa masam.  

 

Perlu dibedakan antara asam dapur dan buah asam.  

Yang kita tanam di Pogog adalah buah asam bukan asam dapur. Buah asam manis ini sangat eksotis dilihat dari bentuk, ukuran dan juga rasanya yang memang manis. Dan lagi, buah ini termasuk kategori buah “table fruit” yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.  

Asam manis “made in Pogog” ini kita namai atau kita sebut sebagai “buah asem Syekh Jangkung”. Bagi penggemar kesenian kethoprak tentu tidak asing dengan cerita legenda Syech Jangkung atau  

Raden Saridin dari kawasan Gunung Kendeng jajaran pegunungan kapur pulau Jawa bagian utara ini. Di mana diceritakan lewat kesaktian kata-kata Syech Jangkung, beliau bisa merubah rasa buah asam yang semula terasa masam dan dirubahnya menjadi manis. Penamaan ini selain bertujuan untuk melestarikan legenda dan cerita Syech Jangkung tetapi juga sekaligus sebagai apreasiasi penamaan buah dengan mengambil sesuatu yang datang dari dalam negeri sendiri.  

Bibit buah asem manis usia 3 bulan

Asal bibit-bibit asem manis ini berasal dari penangkaran dari desa Sawit, Boyolali, Jawa Tengah dari pohon asam manis milik saudara Solikhin. Saudara Solikhin ini yang pernah bekerja sebagai tenaga finishing mebel di Solo ditempat saya bekerja. Tetapi sayang sekali pohon itu sekarang telah ditebang karena ditempat tumbuhnya pohon itu  

sekarang dipakai sebagai kandang bebek dan sekarang saudara Solikhin tidak bekerja di tempat saya lagi tetapi kini beliaunya sudah menjadi juragan telur bebek.  

Asem manis yang akan kita tanam di desa Pogog ini nantinya berjumlah 2.000 bibit. Jumlah bibit sebanyak itu hanya akan ditanam dipinggir-pinggir jalan sepanjang jalan desa di sekitar Pogog saja dan bukan ditanam dipekarangan tanah milik warga.  

Tujuan penanaman asam manis di sepanjang jalan desa dengan tujuan (1) untuk menghijuakan kawasan jalan desa sekaligus sebagai peneduh ketika siang hari serta sebagai kawasan  

penangkap arus angin, (2) sebagai salah satu penopang ekonomi semua warga desa karena hasil penjualan buah asem manis yang bernilai ekonomis tinggi ini hasilnya nanti akan dikelola per-RT / RW atau dikelola bersama segenap warga RT/RW yang bersangkutan. Hal ini berbeda konsep dengan pengelolaan hasil buah pepaya di mana petani pepaya menikmati hasil panen mereka yang mereka tanam sendiri-sendiri (3) menciptakan suatu “land mark” baru desa Pogog, bahwa ke depannya desa Pogog tidak hanya dikenal sebagai desa sentra baru dan pertama penghasil pepaya di kabupaten Wonogiri tetapi juga sebagai desa penghasil “sweet tamarind” alias buah asam manis yang eksotis yang biasa dijumpai di supermarket-supermarket (4) estetika, dengan tertanamnya pohon asam manis secara massal dan seragam sepanjang jalan-jalan desa maka secara visual akan terwujud cita rasa estetika tersendiri bila kita berada di bawahnya.  

Saya tidak tahu apakah ada di tempat lain di Nusantara ini yang telah atau akan menanam secara masif buah asam manis / sweet tamarind atau secara komersial atau berkonsep petani industrialisasi sebanyak yang akan kita tanam di Pogog nantinya? Sekiranya ada yang mengetahui tentang hal itu, mohon kiranya menginformasikan kepada kita warga dan petani desa Pogog untuk bisa kita belajar kepadanya.  

Demikian pemberitahuan dari saya. 

Salam desa - Mas Jiwo Pogog 

Apa itu pepayanisasi desa Pogog? 

PEPAYANISASI DESA POGOG adalah usaha warga negara untuk memperkuat kemandirian  

perekonomian mikro berbasis ekonomi kerakyatan. Program ini digagas, dilaksanakan dan dibiayai sendiri oleh mas Jiwo secara pribadi tanpa bantuan orang / pihak lain. Program ini bersifat umum, terbuka dan non-partisan. Program ini merupakan suatu batu loncatan untuk program yang lebih lanjut. Informasi, saran dan komentar, silahkan berkunjung ke situs kami di : http://masjiwopogog.wordpress.com   

Link terkait dengan pepayanisasi : http://masjiwopogog.wordpress.com/dinamika/pepayanisasi/

Posted in Dinamika Pogog, Indonesia Tetapi..., J'lajah Desa, Ndremimil..!, Pepayanisasi... On and On Progress, Pogog: Meet The Peoples, Pogog: Over View | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , | 8 Comments

Liburan Wisata Hati Ke Desa Sidowayah, Jambon, Ponorogo, Jatim

Atun, Kayla dan Fitri di tugu biru desa Sidowayah, Jambon, Ponorogo, Jatim

Liburan akhir tahun 2009 kita lalui dengan datar-datar saja. Liburan kali ini kita maknai seperti hari-hari biasa. Kita hanya benar-benar libur hanya pada hari Natal dan Tahun Baru saja. Selebihnya kerja dan kerja. Kita disibukan pekerjaan di rumah juga pekerjaan di desa Pogog. Di rumah saya harus bekerja untuk menafkahi keluarga saya sedang di desa Pogog kita bekerja untuk suatu cita untuk turut serta memajukan desa itu. Kita serumah sudah maklum dan enjoy saja dengan keadaan ini. 

Setelah sekian kali putriku mengikuti serangkaian perjalanan dan kegiatan saya di desa Pogog, kali ini ananda saya ajak untuk berkunjung di suatu desa yang -maaf- miskin dan sekali lagi maaf… suatu desa yang disebut juga desa idiot karena banyaknya warga desa tersebut yang menderita atau menjadi idiot karena kekurangan nutrisi terutama yang mengadung yodium yang akut. 

Desa itu bernama desa Sidowayah, kalurahan Sidoharjo, kecamatan Jambon, kabupaten Ponorogo. 

(Desa ini menjadi terkenal di media massa dan internet karena banyaknya orang idiot di desa tersebut beserta penyakit lainnya yang sama-sama disebabkan kekurangan zat yodium). 

Jarak desa Sidowayah, Jambon, Ponorogo, Jatim dengan desa Pogog, lereng gunung Lawu sisi Selatan, Wonogiri, Jateng kurang lebih antara 30 km. 

Bersama Kayla, saya ajak juga dua teman sebaya dan teman ‘kontak’ Kayla dari desa Pogog, mereka adalah Atun (12thn) dan Fitri (9 thn). 

Sepanjang perjalanan sebelum menuju desa Sidowayah saya lihat mereka saling bercanda dan saling berbincang yang seru. Tapi begitu kita memasuki desa Sidowayah tersebut… mereka menjadi sepi, saling diam dan sepertinya mulut mereka terkunci rapat karena mereka melihat pemandangan yang belum pernah mereka saksikan. Sebuah potret buram akibat kemiskinan. Anak-anak kecil telanjang dada atau telanjang seutuhnya dengan tubuh kecil kurus, banyak orang nampak cuma duduk-duduk di teras rumah tanpa melakukan apapun pada saat orang lainya beraktifitas. (Saya sendiri juga merasa aneh melihatnya). Orang-orang bertubuh pendek dengan tinggi badan sekitar 130-140cm atau yang terkena penyakit kretin. Mereka adalah orang dewasa denga postur tubuh yang mungil. Satu-dua kali berpapasan dengan penderita penyakit gondok di jalan (ananda Kayla baru pertama kali melihat orang berpenyakit gondok) dan berjumpaan warga desa yang idiot tentunya. Dan perjumpaan itu sangat dekat jaraknya. 

Saya tidak tahu apa yang di dalam pikiran Kayla dan teman-temannya tentang kaum idiot di desa itu yang oleh masyarakat setempat di sebut “kaum mendo”. Mungkin ada juga perasaan takut, tidak berani melihat atau perasaan yang belum mereka pahami untuk dimengerti. Yang saya tahu pasti mereka menjadi sangat bersimpati kepada orang lain terutama anak-anak di desa ini. Saya lihat dari kejauhan (karena saya sedang mencari air untuk berwudlu) Kayla mengajak berbicara dengan anak-anak kecil di sana yang nampak malu-malu dan berlari setiap kali Kayla mendekatinya. Saya lihat juga Kayla mengeluarkan uang dari sakunya dan diberikan kepada anak-anak kecil itu meski masih malu-malu dan tidak mau mendekat. 

Ini adalah wisata hati. 

Maaf, saya menyebut dengan kata “wisata” untuk perjalanan ke desa Sidowayah ini. 

Memang menjadi tujuan utama mengajak putri saya juga anak-anak dari desa Pogog berkunjung ke Sidowayah ini untuk mengasah hati akan kepedulian dan empati bagi orang lain sambil menyukuri apa yang telah Alloh Tuhan Yang Maha Esa berikan selama ini. 

Pada saat saya ingin memotret Kayla dan teman-temannya di sebuah tugu warna biru penunjuk desa Sidowayah, tanpa saya duga Kayla mengatakan: “Saya kalau sudah besar nanti saya juga ingin menjadi relawan pembangunan seperti abah di desa Pogog”. Sebagai orang tuanya, saya bangga mendengarkan kalimat itu. Walau hal itu cuma sebuah kesanggupan dari seorang bocah yang mungkin terwujud atau tidak ke depannya tapi saya bangga mendengarnya (pasti bunda dan yanda-nya di sekolah pasti juga ikut bangga mendengarnya) karena kalimat itu keluar dari hati Kayla sendiri tanpa ada yang mengarahkan. 

Rupanya Kayla telah memahami program KKN saya dan segala dinamika di desa Pogog dan menjadikannya sebuah inspirasi. Saya hanya berdoa dan mengamininya. 

Semoga. 

Ini sebuah liburan yang bermakna bagi kita. 

(Bagi saya, perjalanan ke desa Sidowayah adalah baru yang kedua kalinya. Dan tujuan perjalanan kali ini sebetulnya adalah untuk bertemu dengan aparat desa setempat (desa Sidoharjo) untuk membicarakan tehnis penanaman pepaya di desa Sidowayah. Bersama aparat desa tersebut saya akan mencoba menanam pepaya sebanyak 300 pohon untuk 1 orang petani. Meski kita agak terlambat memasuki masa tanamnya, saya berpendapat lebih cepat pepaya tertanam di sana. Insya Alloh, pada musim tanam ideal tahun 2010 yaitu bulan Oktober 2010 yad akan ada lagi program KKN bidang pepayanisasi di Sidowayah. Saya berharap sekali pepaya yang ditanam akan menjadi komoditi yang nantinya ikut membantu dan memberi andil bagi warga dalam meningkatkan perekonomian warga desa Sidowayah. Saya berharap sekali desa Sidowayah mampu mengembangkan pepaya itu seperti halnya di desa Pogog, Wonogiri, Jateng yang telah aku rintis sejak akhir 2007).

Posted in Indonesia Tetapi..., J'lajah Desa, Ndremimil..!, Pogog: Over View, Ponorogo, Reyog, Wengker | Tagged , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Qurban di Desa Terpencil: Sebuah Gagasan… Tetapi Saya Telah Melaksanakannya Sejak 2004

Membaca bebepara posting status di Facebook di hari Raya Idul Adha 2009:

“Daging Qurban menumpuk ditempatku, kita kesulitan menyalurkan kepada yang lebih berhak”

“Frezzer-ku sampai tidak muat, terpaksa aku masak biar daging tidak rusak”

“Sapi banyak, kambing banyak… manusia sedikit”

Saya jadi kepikiran untuk memperkenalkan suatu ide atau gagasan yang sekiranya (mungkin) menjadi solusi atas problema status di atas.

Tapi ini bukan sekedar ide karena aku sudah mempraktekannya.

Tapi demi suksesnya ide gagasan ini paling tidak butuhkan dua atau tiga syarat mutlak untuk dipenuhi. Yaitu:

(1) buat suatu koordinasi dengan warga, aparat desa atau tokoh masyarakat di desa tempat sasaran Qurban akan diserahkan,

(2) jalin dan informasikan kepada saudara dekat dulu, rekan kerja, relasi, kelompok pengajian atau pribadi siapapun juga yang sekiranya tertarik dengan ide gagasan ini… dan

(3) kemungkinan anda merayakan bersama warga desa di sana yang artinya (bisa saja) anda tidak melaksanakan atau merayakan malam takbiran atau sholat ied bersama orang terdekat anda atau keluarga.

Saya sudah mempraktekan hal ini sejak tahun 2004 atau pada tahun 2009 ini menjadi tahun yang ke-6 pelaksanaannya. Tidak ada yang sulit kecuali alokasi waktu tentunya. Tetapi yang namanya waktu itu akan tetap tidak akan memberi kesempatan kepada kita sampai kita betul-betul sudah terjun langsung di lapangan, ya bukan?

Pengalaman dari waktu ke waktu, sebetulnya program ini paling cocok dilakukan pemuda-pemuda yang belum berkeluarga karena mereka lebih punya banyak kesempatan untuk bergerak lebih bebas.

Sekiranya ada yang berkenan menjadi pelopor tebar Qurban di desa-desa untuk tahun-tahun depan saya siap sedia untuk berbagi ilmu yang pernah aku kerjakan di desa Pogog. Dan kalau sekiranya ada yang akan menyalurkan di desa-desa lain di wilayah kabupaten Wonogiri (tentunya hal ini berlaku bagi warga karesidenan Surakarta) saya ada data-data tentang desa yang sangat tepat sebagai tempat tebar Qurban anda. Seperti kecamatan Puhpelem, Bulukerto lor lereng gunung Ampyang, Puhpelem di Sayutan dll-dll.

Saya yakin dan percaya pasti masih banyak di daerah atau di desa-desa sekitar kita yang lebih tepat sasaran. Saya yakin dan percaya kegiatan ini bermanfaat dari berbagai segi pandangan. Saya yakin dan percaya karena aku telah mempraktekannya.

Sampai ketemu rekan-rekan desa di hari Idul Adha tahun depan..!

Tertarik dengan konsep di atas, pelajari kiat-kiatnya dan lihat dokmentasi pelaksanaan Qurban 2009. Perayaan Qurban yang paling banyak dari segi jumlah hewan Qurban yang disalurkan. Qurban 2009 ini banyak mempunyai sisi cerita ’dramatis’ yang tak terbayangkan sebelumnya. Temukan segalanya itu di sini..!

Lihat ini juga yang ini yang gak kalah seru pelaksanaan tahun sebelumnya 2008 dan temukan foto-foto unik khas desa di sana juga cerita yang penuh dengan surprise bagaimana program KKN yang sederhana ini direspon banyak rekan. Klik di mana? Silahkan klik di sini..!

Salam Desa - Mas Jiwo Pogog

Posted in Dinamika Pogog, Kabudayan, Meet The Author: Mas Jiwo, Ndremimil..!, Pogog: Meet The Peoples, Pogog: Over View | Tagged , , , , , , | 1 Comment

Perpustakaan Desa Pogog – Wonogiri: Tertinggi dan Gratis di Gn. Lawu

Juni 2010, Kayla menyerahkan kiriman paket buku dari rekan Nadine Niticeta (Jakarta) untuk perpustakaan Pogog yang diterima oleh Kang Guru Narno. Ini adalah lokasi baru perpustakaan desa Pogog yang sebelumnya menempati serambi masjid di desa Pogog. Ruang baru ini menempati ruang belajar dan mengajar milik Kang Guru di mana Kang Guru Narno memberikan pengajaran baca tulis kepada petani secara gratis

Sebetulnya perpustakaan ini sudah ada sejak di awal tahun 2007-an atau kurang lebih satu tahun lebih dulu dari program pepayanisasi. Perpustakaan ini menjadi sedikit terlupakan karena saat itu, karena kita sedang mengerjakan program KKN yang lebih besar dalam hal target dan skala peruntungannya bagi warga desa yaitu pepayanisasi desa Pogog.
Pada awalnya perpustakaan ini hanyalah sebuah perpustakaan kecil-kecilan di serambi masjid Nurul Islam desa Pogog - sampai sekarang perpustakaan itu juga masih kecil. Tidak apa, warga sudah senang memilikinya. Perpustakaan ini pada awalnya hanyalah satu usaha saya yang sangat personal sifatnya yang tujuannya hanya ingin meningkatkan minat baca dikalangan anak petani desa Pogog. Titik. Itu saja. Dan sekarang berkembang dengan adanya beberapa rekan yang begabung secara aktif. Suwun untuk semuanya.
Pengadaan buku, pembuatan rak penyimpan, penunjukan ‘pengurus’-nya dan lain-lainnya saya kerjakan sendiri.
( Ya, karena ini cuma bersifat personal aja, ya apa-apanya saya kerjakan sendiri. Atau kalau saya boleh sebut, itu sebagai usaha sebagai seorang warganegara dalam upaya ikut menyumbang andil untuk mencerdaskan bangsa. Muluk sekali tujuannya ya? Muluk atau tidak muluk itu tidak penting bagi saya, yang penting saya telah bergerak. Yang penting aku pernah melakukan hal itu, soal hasil bukan wewenangku untuk berharap sesuai yang aku citakan. Aku hanya berusaha saja).
Pada awal berdiri ada kurang lebih 150an judul buku telah saya serahkan. Daftar buku yang diterima dicatat oleh adik kita Atun, kelas 5 SD waktu itu. Atun adalah anaknya kang Rimo seorang takmir masjid dan ketua kelompok tani di desa itu.
 
 
(2007: Atun dan teman2nya sedang mencatat buku-buku kiriman Dan Sapar).

Perpustakaan itu berdiri di masjid Nurul Islam. 

Tak lupa, saya tunjuk pak Jamal, seorang petani setempat yang rumahnya tepat di depan masjid untuk jadi ‘pengurus’ untuk melayani proses peminjaman dan sekedar buka tutup kunci rak buku untuk melayani anak-anak yang membutuhkan. 

Dan ternyata…, pengelolaan perpustakaan yang sangat sederhana sekalipun perlu ditangani oleh orang yang ahli dibidangnya. Dan karena… perpustakaan super kecil ini dikelola oleh seseorang - yang meski baik hati dan tidak tegaan - tetapi hanya berbekal ilmu pertanian belaka maka amburadul jadinya. Buku-bukunya menyebar… tak terdeteksi lagi siapa meminjam apa? Sejak saat itu pasti pak Jamal jadi tambah sibuk. Sibuk karena anak-anak itu bisa datang kapan saja bahkan saat pak Jamal lagi pergi ke ladang. Apalagi perpustakaan ini masih baru tentu bisa dibayangkan akan hal ini. Saya percaya, pasti selama ‘mengelola’ pak Jamal jadi kurang nyenyak tidurnya hahahahaha….! Pak Jamal jadi semakin tambah kerjaan saja. 

Akhirnya - oleh pak Jamal, siapapun yang mau meminjam buku mereka disuruh mengambil kunci sendiri dan mengambil bukunya di rak-rakan sendiri-sendiri…! 

Bisa ditebak khan kelanjutan nasib perpustakaan mini ini?! Buku semakin lama semakin berkurang..! Dan buku-buku itu tak kembali! 

(Belum lagi adanya gangguan dari Si Peri Cantik Jembatan Nganti. Ini yang disebut gangguan ”halus” di mana si peri itu ”meminjam buku-buku” itu duluan bahkan sebelum didata dan aku serahkan kepada Atun. Dia “mengambil” 15 judul buku sekaigus tanpa kembali. Dia mengambil buku itu begitu saja di jembatan Nganti itu). 

(Dia juga mengambil barang bawaanku lainnya yang berupa oleh-oleh untuk kang Rimo berupa satu ingkung ayam panggang mbok Tiyem yang aku beli selama perjalanan. Hilang semua buku dan oleh-olehku di jembatan yang legendaris yang dihumi peri cantik itu. Ternyata seorang (?) peripun juga perlu untuk jadi pintar hahahaha…). 

Sekarang yang tersisa di rak buku paling-paling tinggal belasan buku saja, itupun buku-buku yang tidak favorit yang karena materinya terlalu serius atau justru terlalu kekanak-kanakan. Sedangkan buku-buku favorit semacam tentang pertanian, sejarah, agama, kesehatan, buah-buahan, primbon, kamus, dan lainnya telah ‘dipinjam oleh siapa saja’ mereka tak terdeteksi lagi. 

Dengan adanya buku-buku diperpustakaan itu telah terbukti menjadi magnet bagi anak-anak untuk mau datang ke masjid untuk membaca. Ini yang sangat menggembirakan untuk diketahui. Bahkan mereka datang dari desa-desa sekitarnya. Seperti yang diceritakan oleh pak Jamal, pernah serambi masjid itu penuh dengan anak-anak SD. Mereka memenuhi serambi masjid dan itu tidak biasanya terjadi. Dan rupanya mereka datang dari berbagai tempat untuk membuat tulisan seperti ’paper’ tentang sejarah dan tokoh-tokoh pahlawan nasional yang kebetulan ‘referensi’ itu ada di masjid jadilah mereka menyerbu ke sana. 

(Seandainya saja aku melihat peristiwa ini dengan mata kepala sendiri!) 

(2007: Serambi masjid Nurul Islam selain tempat pertemuan dengan kelompok tani juga tempat di mana perpustakaan berada).

Saya pernah membuat posting tentang perpustakaan ini untuk pertama kalinya pada tahun 2007an di media jejaring sosial Multiply. Saat itu saya belum mengenal Facebook. Banyak komentar di sana yang rata-rata ‘menyayangkan’ akan hal itu terjadi dan ikut menjadi sedih karena buku-buku perpustakaan itu ‘hilang’. Tetapi saya yakinkan mereka untuk menyimpan rasa sedih atau keprihatinan itu. Kita di sini baik-baik saja. Saya katakan bahwa - di sana – warga desa atau anak-anak desa Pogog tidak menjadi sedih karena kehilangan banyak buku. Satuhal yang saya suka dari semangat warga desa adaah optimsme. Di mata saya, mereka adalah manusia kesayangan Alloh Tuhan Yang Maha Pengasih dan Penyayang yang betul-betul bisa menghayati apa arti bersyukur itu. Pancaran keiklasan dan bersyukur sepertinya menyelimutinya. Mereka adalah hambanya yang selalu memandang semuanya dengan rasa optimis dan gembira. Bahkan dalam ’bencana”pun mereka tetap gembira. (Ini sikap yang mesti kita contoh, optimisme-nya mereka). Mereka tetap menjadi mahkluk gembira meski milik mereka tidak utuh lagi. Dengan buku 100 mereka gembira dan kini memiliki tinggal yang tersisa juga tetap gembira. 

Paling tidak mereka masih bisa membaca tetapi daftar buku yang pernah mereka miliki dari buku catatannya Atun hahahahaha…! 

Masih belum mengenal Facebook saat itu. 

Saya waktu itu masih aktif menulis di Multiply dan saya berkawan dengan rekan Danar Saparudin alias Dan Sapar yang akhirnya juga menjadi teman saya ketika saya punya akun di facebook. Rekan Dan Sapar ini rupanya tertarik ingin menyumbang beberapa koleksi bukunya untuk diserahkan dan supaya bisa menjadi bagian dari koleksi bukunya warga desa Pogog. Dan tidak lama setelah itu saya mendapat satu kotak kardus berisi 100an judul buku. Selang beberapa bulan berikutnya saya mendapat kiriman 100an lebih lagi judul buku dengan thema yang sangat sesuai dengan ‘selera’ warga desa Pogog yang memang rekan Dan Sapar ini pernah menelpon saya dan menanyakan apa kira-kira buku yang menjadi kesukaan warga desa Pogog. Rupanya Dan Sapar ini terinpirasi oleh gerakan Room To Read-nya orang luar sana. 

Selang bulan berikutnya saya juga mendapat kiriman 3 dus karton yang jumlah totalnya 100an buku pelajaran SD dari rekan di Facebook Nadine Niticeta. 

(Tampak dari depan, lokasi baru perpustakaan desa Pogog terletak di satu bangunan milik Kang Guru Narno).

Kiriman buku-buku yang telah saya terima, baik dari Dan Sapar maupun Nadine Niticetta itu semua adalah karena peran aktif mereka dan atas inisitif mereka sendiri dalam usaha ikut mencerdaskan bangsa lewat perpustakaan desa Pogog. Terima kasih saya ucapkan dan bersyukur saya panjatkan. Buku-buku yang ‘hilang’ telah tergantikan dengan buku-buku yang lebih baik dan lebih bervariasi serta disukai warga desa. Buku-buku yang ‘hilang’ tidaklah hilang tetapi menjadi ilmu bagi yang menyimpannya siapapun mereka dan semoga menjadikan ilmu yang berkah. 

Sekarang buku-buku itu tidak dikelola oleh Pak Jamal lagi tetapi dikelola oleh
Kang Guru Narno dan menempati lokasi yang baru di satu bangunan milik Kang Guru tempat Kang Guru memberikan pembelajaran les gratis kepada bapak ibu tani di desa Pogog. 

Kang Guru Narno seorang tokoh masyarakat setempat, seorang pendidik dan seorang dari ‘my local partner’ saya dalam rangka saya menjalankan program KKN-ku di desa Pogog ini. Buku-buku itu terawat dengan baik dan terorganisasi dengan baik pula. 

Ternyata mengelola perpustakaan itu lebih dipegang dan dikelola oleh orang baik yang lebih dekat dengan dunia buku daripada dikelola oleh orang baik yang dekatnya dengan dunia tani ya hahahahaha..! 

Sekarang ini kondisi perpustakaan di tempat baru itu menjadi lebih terkontrol, teratur dan terdata dengan baik siapa meminjam apa. Ini berkat kerja tanpa pamrih Kang Guru Narno yang merelakan waktunya setiap hari Minggu antara jam 1 s/d 3 sore demi kecintaan warga desa Pogog dalam hal membaca buku. Terkadang perpustakaan itu di jaga istrinya Kang Guru Narno yang seorang ibu rumah tangga saja. Terkadang Atun juga menjaga perpustakaan itu sambil belajar berorganisasi (desa). Setaip kedatangannya tercatat antara 20-30 anak setiap minggunya (asal tidak hujan saja). Data absensi dan jenis buku yang dibaca dicatat dengan baik oleh Kang Guru dan hal ini sudah berjalan selama 3 tahun (teritung posting ini aku buat pada Juli 2010) 

Pada malam hari (pada hari tertentu) sekarang juga buka tetapi hanya untuk anggota kelompok tani yang juga menjadi anggota kelompok belajar yang belum melek huruf. Kelompok ajar khusus petani ini atas prakakarsa dan swasembada Kang Guru sendiri. 

Para petani ajar boleh belajar di perpustakaan sambil tidur-tiduran di lantai beralaskan tikar sambil minum teh, kopi atau merokok. Santai. 

SEMOGA TULISAN INI MENJADI INSPIRASI BAGI SAUDARA-SUADARI SEKALIAN UNTUK BISA BERKARYA DI DAERAHNYA MASING-MASING 

Link-link posting menarik lainnya:
1. Wisata Hati Ke Desa Sidowayah, kecamatan Jambon, Ponorogo, Jatim yang cocok untuk pembelajaran anak untuk mengasah kepedulian sebagai ”wisata alternatif” di kala liburan. Tapi jangan dibayangkan bisa menjumpai tempat atau fasilitas layaknya tempat liburan. . “Wisata” ke Sidowayah justru akan menjumpai tempat yang justru kebalikannya. Datanglah ke sana meski virtual dulu dengan mengetik ”sidowayah ponorogo” dari search engine. Di kawasan ini akan dijumpai suatu kawasan dengan kondisi kemiskinan dan gizi buruk yang akut dan yang paling menonjol adalah banyaknya warga desa yang mengidap penyakit keterbelakangan mental alias- maaf - idiot atau yang oleh warga setempat di sebut ”kaum mendo”. Maka tidak heran jika desa in sering mendapat sebutan desa idiot. Ajaklah anak-anak ke sana ajarilah tentang kepedulian. Siapa tahu dari merekalah nantinya desa di lereng gunung Rajegwesi itu bisa berubah. Jangan protes dulu dengan ide “wisata” ini sebelum membaca tuntas link-bya.
2. Qurban Di Desa: Wacana…. Tetapi Aku Sudah Mempraktekannya sejak tahun 2004. Link ini merupakan suatu konsep riil dan mudah diaplikasi dan ditiru siapapun dalam hal pemerataan kewan Qurban. Banyak respon dan banyak yang menyatakan tertarik, maka buruan klik link-nya!
3. Yang fenomenal cerita Peri desa Pogog ini
Peri Itu Memang Ada satu cerita nyata perjumpaan penulis dengan peri cantik di siang bolong di suatu tempat di ruas jalan antara Jatisrono dan Slogohimo, Wonogiri. Apakah hubungannya dengan peri cantik jembatan Nganti yang suka mengambil buku-bukuku itu? Temukan jawabannya di sana! Di link ini, anda perlu bersabar untuk membaca seluruh narasi yang ‘agak’ panjang tetapi pasti cerita ini so pasti seru dong..!
4. Yang ini tentang dokumentasi dinamika desa Pogog yang belum banyak diketahui rekan-rekannku di FB, sebab mereka tersimpan di album Flickr. Temukan sisi lain dari desa Pogog yang selama ini belum terekspos..!
5. Atau sekedar mencari bahan bacaan segar, konyol dan penuh sensasi pornografi, temukan cerita
wayang mbeling tentang Batara Kala ini sebelum situs ini diblokir karena alasan bertentangan dengan UU Pronografixxx.

Posted in Dinamika Pogog, Indonesia Tetapi..., J'lajah Desa, Kabudayan, Meet The Author: Mas Jiwo, Pogog: Meet The Peoples, Pogog: Over View | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

Batara Kala: Cerita Wayang Yang Syer dan Seru..! Pesan Pak Dhalang: Bacalah posting wayang mbeling ini sebelum situs ini diblokir karena bertentangan dgn UU Pronografiiiikkk..!

Batara Kala

(C) Text document by Mas Jiwo Pogog. First published on Facebook, May 2010.

Sebelum membaca cerita wayang ini, berapa usiamu? Bila belum genap 18 tahun maka tutup halaman ini cari posting lainnya saja. Terima kasih.

BATARA KALA adalah anak batara guru yang tidak dikehendaki keberadaannya yang bahkan keberadaannya itu sendiri terjadi secara tak terduga.

kok bisa ya?

begini ceritanya…, batara kala itu terjadi karena mutasi genetiknya dari ‘kama’ atau air mani batara guru akibat dari tidak tersalurkan secara semestinya yang jatuh ke samudra.

eladalah… wajik kletik dipangan ngasu..! jaman wayang kok ya ada-ada saja yang sukanya numpahin mani di mana-mana. gak jauh beda ama jaman sekarang… xixixixixi…! jadi ingat temen-temenku yang tingal di kos-kosan dulu… hahahaha..!

dilanjut ya, serius nih..! ceritanya, kala itu batara guru (dewanya para dewa) sedang berselancar di dirgantara bersama istrinya yang bernama dewi uma. mereka berdua terbang di angkasa dengan menaiki tunggangan mereka yang berupa seekor sapi yang bernama lembu andini. mereka sedang berselancar di atas laut kidul, tepatnya di selatan nusa kambangan.

intermezo dikit dulu ya! sapi aja ada namanya ya? jadi gak salah kalau aku namai ayam jagoku dengan nama “rogo” khan udah ada pakemnya. nama rogo kayaknya klop dengan namaku jiwo, jadi jiwo rogo. sip khan?

lanjut lagi ya… dan ketika…. dalam penerbangan tanpa helm dan jaket ini angin angkasa raya terasa menyibak dan semuanya menjadi melambai-lambai. akbatnya menjadikan baju kedewataan dewi uma yang terbuat dari sutra tipis seperti berkibar-kibar. dan angin itu secara tidak sopan menyibak baju kedewataan dewi uma maka tersingkaplah betis dewi uma. cukup di situ adegannya jangan berharap lebih. dan itu dlihat oleh mata sang suami dengan tatapan penuh nafsu. heran, kayak belum pernah lihat sebelumnya aja. padahal ya cuma sebuah betis loh (tapi memang betisnya mulus bener loh, ceritanya sih) ini belum tersingkap yang lain-lainnya tapi kok ya sebegitunya si batara guru itu, maunya nyosor mulu. si batara guru jadi nafsu berat, jadi BT, birahi tinggi..!

dasar laki-laki gak tahu tempat..! sepertinya aku sedang menyumpahi diriku sendiri nih, jadi malu xixixixixi..!

naluri lelaki selalu begitu, selalu nekad bin kalap ketika mendapati suasana secara kalkulatif ‘memungkinkan’ meski di area publik. batara guru semakin tak terkendalikan emosinya (baca: hasrat seksualitasnya, seremnya kedengarannya…!)

(jadi kepikiran, apa mungkin ya aku jadi penulis stensilan cerita cabul. kayaknya ada bakat nih).

(lama-lama terbawa alur cerita yang aku imajinasikan sendiri, aku lihat ke ‘bawah’… rupanya ada yang hanyut nih…! hmm… terpaksa tahan nafas dulu nih. terpaksa meski gass pollll… tapi rem pollll dulu…! sabar-sabar, tenangkan dirimu teruskan cerita wayang mbelingmu..!)

(sampai di mana tadi ceritanya?)

ceritanya sampai sang batara guru yang mengajak bersetubuh dewi uma di atas lembu andini itu. dengan ketegasan khas seorang wanita maka jelas ini sangat ditolak dan ditentang sang dewi. kalau diterjemahkan dalam bahasa ndeso-nya kurang lebih begini: “pakne, sampeyan kuwi wis edan opo piye? nyebut pakne… ingat, ini ada di kawasan publik, tidak semestinya kita berbuat seperti itu. opo yo tumon yen roman karo playon neng nduwur kendaraan ngene iki, mengko yo kecer kabeh. kecret tekan ngendi-endi. ojo edan-edan pakne. kita ini dewa dewi, ada beban dan jabatan suci pada diri kita. ojo koyo bocah ngarit sing ora genah kae! apa kata burung-burung di angkasa, apa kata lembu andini yang terpaksa melihat dan mendengar kita, apalagi sampai tercium ‘bau aroma’ kita… jan-jan sampeyan kuwi ora sopan babar blas! nyebut pakne!” begitu heroik aksi penolakan sang dewi.

tapi, sebetulnya saat itu sang dewi hampir saja terhanyut arus gairah – larut dalam irama tarian jari jemari batara guru. sentuhan dan belaian yang merata ke seluruh tubuh (kayak pakai balsem param beras kencur aja hahahaha…) di atas kulit mulus sang dewi hampir saja memuluskan terjadi adegan erotis on the air. memang – sebetulnya- saya lihat saat itu sang dewi sudah menjadi basah karenanya… ya basah… karena saat itu memang cuaca di angkasa lagi mendung dan sedikit turun hujan rintik-rintik.

sebentar. sampai di sini dulu ada yang menjadi kuyup? tunjuk jari?

lanjut ya..!

semakin sang dewi memberontak, sang dewa batara guru semakin BTTTTTTT. titik.

selanjutnya bisa ditebak. sang batara guru semakin ngawur. talkless do more pokoknya. nghlibet wae. kalau adegan ini difilemkan pasti akan terlihat wajah sang batara guru yang aneh, memelas, menahan, gak sabar, nge-rem, gemas sambil gedruk-gedruk dan seribu wajah yang tak jelas dan tak biasa terekspos. nggilani pokokmen hehehe..!

asal tahu aja. sang batara guru memang tipe yang bisa menahan diri dan gak bisa menahan aksinya. sukanya main comot aja. lagi pula pada dasarnya beliau karena usia sudah agak “dhol” katup-nya disamping ada riwayat penyakit gula jadinya sudah bisa dipastikan dia memiliki sebuah “pertahanan” yang buruk.

ler.. ler.. ler… mengalir deh! air mengalir sampai jauh, kata alm. mbah gesang di lagu bengawan solo yang legendaris itu.

maka… jatuhlah ‘kama’ benih alias air mani sang batara guru itu ke laut kidul itu.

letoy.

“puas tapi sasaran gak kena. mayan… lah buat hepi-hepi daripada jadi batu akik”. begitu kira-kira yang ada dipikiran sang batara.

dan benar issue bahwa ‘kama’ tokoh terkenal itu biasanya tidak berhenti di situ saja ceritanya. ‘kama’ orang besar selalu menjadi cerita, sejarah itu memang berpihak kepada yang besar. ‘kama’ itu tetap menjadi masalah meski ‘kama’ itu jatuh ke tengah samudra…

diceritakan, ‘kama’ itu jatuh ke laut yang saat itu laut kidul sedang bergolak dengan hebat. di laut yang sedang begolak itu sang ‘kama’ menjelma menjadi sebuah mahluk yang seram dan mengerikan. mahkluk mengerikan itulah nantinya yang bernama batara kala.

kejadian inilah yang mengilhami cerita kura-kura ninja dengan teori mutasi genetiknya. coba saja darwin dulu mau belajar pewayangan pasti dia gak tertarik menulis teori evolusi ya yang sekarang ini teori darwin itu mendapat tantangan berat dengan teori genetis ini yang lebih masuk akal.

batara kala adalah gambaran, manifestasi dari nafsu (sisi bejatnya batara guru – maafkan kata-kata saya ini, aku belum menemukan kata yang lebih sopan) yang nyata. lebih bejatnya lagi adalah keadaan di mana sang batara kala justru nantinya akan memperistri ibunya sendiri, dewi uma, yang saatnya nanti itu sedang menjalani kutukan dari sang batara guru.

tentang kutukan itu diceritakan bahwa akibat “tragedi di atas lembu andini membara itu” menyisakan amarah di hati kedua batara-batari itu. yang akhirnya mereka saling menyalahkan dan saling kutuk. pada awalnya sang dewi mengkutuk suaminya dengan mengatakan bahwa apa yang dilakukakan sang batara di atas lembu andini itu hanya pantas dilakukan oleh mahkuk bertaring, mahkluk buas dan tak beradab. dan…dalam sekejab itu gigi taring sang batara bertambah panjang mirip punyanya mahkluk buas. wajah batara guru itu tampan dan teduh tetapi dia tetap tidak bisa menyembunyikan gigi taringnya. ini sudah takdirnya. sedangkan dewi uma oleh batara guru dikutuk menjadi raseksi jelek rupa bentuk dan perangainya. dan dinamai batari durga yang berupa raksasa perempuan yang ceritanya tuh.. jahat sekali..!. dan batari durgo inilah yang akhirnya diperistri oleh batara kala, anaknya sendiri. (yang ini tadi khan udah di tulis di atas, dasar penulisnya lagi kesetrum ikutan BT, nulisnya jadi gak konsen)

weh…weh… kok ngene critane yo! edan tenan yo? jaman wayang kok yo wis ono oidipus komplek atau perkawinan incest yo. brarti, ilmu psikiloginya orang barat kuwi kalah tuwo yo yen dibanding karo ngelmu pewayangan.

tapi siapa yang masih or mau menggali potensi pewayangan yang asli made in nusantara ini? meleysia kalee ya..?!

(naskah diedit 2 juli 2010)

atas pertanyaan sdri kita retno proborini (28/6/2010) tentang dewa betari durga dan sang hyang premoni dalam hubungannya dengan batara kala, benarkah mereka menjadi suami istri kedua insan ibu dan anak itu?

sebentar, semua permasalahan bisa diatasi dengan kacamata. maksudnya kalau gak pakai kacamata gak bisa menulis hehehe…!

kembali ke masalah saling kutuk antara betara dan betari itu. dan setelah sang batara guru mengkutuk istrinya menjadi raseksi (raksasa cewek) yang buruk rupa dan batara guru dikutuk menjadi wajah tampan bertaring.

maka menyesalah si batara guru.

dasar… lelaki buaya darat (seperti suara koor duet diu ratu dalam single-nya) batara guru menyesal bukan karena telah semena-mena kepada dewi uma tetapi menyesal melihat desktop tampilan si uma sekarang ini. “koq istriku jelek sekali ya, gak afdol lagi dong diajak jalan. apalagi menemani kunjungan dinas ketemu dengan banyak rekan dan relasi’ begitu bisik hatinya. “apa kata gareng, petrukm bagong yang sekarang istri mereka justru lebih cantik dari yang aku punya sekarang?” “padahal aku kahn pejabat publik!” pikirnya sambil cari solusi yang paling menguntungkan… buat dia sendiri.

natasha beauty centerpun gak mungkin bisa mermak tampilan dewi uma untuk kembali sedia kala.

dasar… lelaki buaya darat..!

dengan aksi politis yang brilian tetapi harus ada pihak lain yang jadi korban dan kambing hitam yang mesti memikul semuanya ini.

atas ijin kekuasaan yang ada pada dirinya, dia sang dewa segala dewa, dia berkuasa untuk membuat merah hitamnya cerita makhluk lain maka dia berencana untuk menukar jiwa dan pribadi dewi uma kepada kepada…!

diceritakan di kayangan suruloyo istana batara guru, tersebutlah sosok sang hyang premoni, seorang betari yang cuuuuannntiknya bukan main… cantiknya sampai kelangit ke tujuh deh pokoknya… tetapi dewi premoni ini jahat, culas, suka dengki iri dan kejaaaaaammmm sekali yang kejamya juga sampai tingkat langit ke tujuh.

ini adalah potential victim to become a black sheep

akhirnya, jiwa sang dewi uma dipindahkan ke tubuh sang hyang premoni yang fisiknya seks-dut itu demi egonya di batara guru, demi jabatan, demi tampilan, demi dari segala demi….. sedangkan sang hyang premoni mesti mengalah jalannya cerita dewata bahwa selain dia berperangai buruk sekali sekarang mesti menjadi tumbalnya si guru itu dan mesti menempati tubih jelek, tubuh kutukan berupa raseksi itu.

inilah sang betari durga dengan jiwa premoni yang culas dan jahat.

kok serius semua?! lanjut ya!

dan ketika batara kala naik ke kayangan suroloyo, dia ingin ketemu bapaknya dan sebelumnya bikn gara-gara di sana. merusak taman kadewatan dan melukai siapapun yang ditemuinya. persis babi ngamuk tindakkannya.

akhirnya ditemuilah oleh batara guru.

tenyata si batara kala meminta 3 permintaan; (1) supaya dia diberi nama, (2) supaya diberi tempat dan ke (3) supaya di beri istri.

akhirnya oleh batara guru, batara kala yang kala itu belum bernama dn hanya berujud minster jahat di beri nama… batara kala (nama batara itu pangkat yang bikin keder titah sakwantah, diberi tempat tinggal di setrogondomayit di hutan krendowahono untuk memimpin para bala jin setan priprayangan dan diberi istri sortiran dengan menderita cacat mutasi genetik akut… sang hyang dewi premoni yang jelek dan jahat.

wayang selesai.. pak dalang mau istirahat dulu..!

(sebenarnya, penulisnya adalah seorang alim dan gak macem-macem apalagi suka menghayal fantasi sex gaya purba jaman wayang. pokokmen gak lah..! percaya? xixixixixi…)

Posted in Indonesia Tetapi..., J'lajah Desa, Kabudayan, Ndremimil..! | Tagged , , , , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment

Sensasi Melayang Di Gapura Desa Golo

Sensasi melayang di gapura desa Golo

Inilah gerbang masuk desa Golo, Puhpelem, Wonogiri yang bercorak tradisi Jawa Dwipa lama. Tidak mengherakan bila desa-desa sekitar sabuk gunung Lawu masih memegang teguh nilai tradisi sebagai wadah ekspresi warg desanya.

Kecintaan akan budaya lokal telah terbukti melahirkan tata nilai dan kearifan lokal yang mempunyai andil dan peran yang besar hingga saat ini dan ke depannya dalam hal memahami dan menenukan solusi problematika peradaban manusia.

Desa Golo terletak sisi imur gunung Lawu, Jawa Tengah dan terletak tidak jauh dari desa Pogog tempat aku menjalani sebagai ’mas-mas KKN’.

Lihat kakiku di dalam foto itu..! Melayang..! Rupanya ’kekuatan’ yang bersemayam di dalam gapura itu memberiku kesempatan untuk melayang..!

Posted in J'lajah Desa, Kabudayan, Ndremimil..!, Pogog: Over View, Reyog, Wengker | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Dayak Ngaju Desa Dawak : The Missing Link?

Bersama A. Murat, seorang demang- kepala desa sekaligus kepala adat suku Dayak Ngaju Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah.

 Foto bersama seorang Demang (kepala desa sekaligus kepala adat Dayak sub suku Dayak Ngaju) dari desa Dawak, Kotawaringin Lama, Kalimantan Tengah.  

Kotawaringin Lalma? Harap dibedakan antara Kotawaringin Lama dengan nama Kotawaringin Barat atau (apalagi) dengan nama Kota Waringin Timur. Masing-masing nama itu menunjuk tiga tempat yang berbeda.  Eeeiiittt…! Masih ada satu lagi: nama Kotawaringin Darat.

Arti kata [darat] menunjuk tempat yang jauh dari sungai atau laut. Dapatkan penjelasannya tentang hal ini dan ‘kota darat’ ini menunjukkan pada suatu tempat dan apa nama tempat itu? Temukan jawabannya pada bagian akhir dari tulisan ini .

Untuk mencapai Kotawaringin Lama (Kalimantan Tengah) membutuhkan 3 jam perjalanan jalur sungai dengan menyewa speed boat ditambah 1 jam lewat jalan darat.  Atau kalau mau jalan santai perjalanan dengan kapal perahu sejenis ’kano’ yang didorong mesin diesel kecil atau  yang di Kalimantan Selatan perahu tersebut disebut jukung. Dengan ’jukung’ atau ’alkon’ – nama orang Kalteng menyebutnya –  ini akan membutuhkan waktu 8 jam dengan mengambil titik start dari kota Pangkalan Bun yang terletak sekitar bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kalteng.  

Ketika saya selelsai mengunjungi paman Demang A murat ini, saya diberi kenang-kenangan sebuah senjata khas desa Dawak yang berupa ’mandaunya’ orang Dayak Ngaju. Jenis dan bentuknya tidaklah sama seperti lazimnya senjata mandau yang kita kenal selama ini.  

Setelah saya teliti dan saya simak cerita ’bahari’ (bahari = lama : bahasa Banjar - red) suku Dayak Ngaju khususnya yang tinggal dan mendiami desa Dawak itu memiliki keterikatan yang kuat dengan kerajaan Majapahit di Jawa sejak abad 13. Hal ini dikuatkan cerita turun temurun dari nenek moyang mereka di mana mereka pada jaman dahulu kala mereka setiap tahunnya pada masa itu para ketua adat lama berkunjung ke Majapahit untuk menyerahkan upeti dan atau menjalinan kekeluargaan atau unuk keperluan lainnya.  

Senjata mandau khas Dayak Ngaju desa Dawak ini  terdapat perbedaan bentuk fisiknya yaitu terdapat pada bentuk ’gagang senjata’ yang lebih dan menyerupai gagang senjata jenis golok yang terdapat menyebar seluruh pulau Jawa. Selebihnya semua bagian dari sebuah mandau itu adalah sama.  

Warga Dayak suku Ngaju desa Dawak ini pada mulanya bukanlah warga Dayak yang terbiasa dengan menggunakan senjata mandau sebagai senjata keseharian mereka. Senjata mandau itu 

bukanlah senjata asli orang Dawak tetapi hasil pengaruh dari suku Dayak lainnya yang terdapat disekitar lingkup mereka. Mandau lebih khusus lagi, lebih dipengaruhi  oleh suku-suku Dayak yang datang dari daerah Lamandau lewat jalur pedagangan atau perkawinan.  

Saya masih mencari tahu, apakah nama Lamandau itu adalah tempat di mana pertama kali senjata mandau itu dikenal? Mengingat secara etimologis nama Lamandau - mungkin terbentuk secara etimologis dari kata [mandau].

 Jika hal ini diselidiki pasti kita akan diperoleh gambaran berbeda dengan cara pandang 

terhadap sejarah perkembangan senjata mandau selama ini.  

Siapa yang berminat meneliti?  

Perlu diketahui, senjata asli orang Dayak Ngaju desa Dawak adalah sumpit.  

Senjata ini pulalah yang dipakai ketika terjadi perang suku atau ketika perang melawan penjajahan Belanda di mana suku Ngaju desa Dawak terkenal heroik mengusir penjajah. Peristiwa ini bisa kita lihat di relief salah satu land mark kabupaten Kotawaringin Barat di simpang lima di daerah sekitar Pangkalan Lada, Kalteng.  

(Lihat gagang senjata golok dari Dawak yngg diberikan kepada saya, gagangnya sama sekali tidak mirip dengan gagang mandau yang selama ini kita kenal khan?  

Sekali lagi, siapa yang bersedia bikin penelitian sejarah tentang missing link ini? Bukankah di Kotawaringin Lama ini terdapat peninggal Kraton Kotaringin Lama (penulisan gaya tempoe doeloe untuk Kotawaringin Lama) yang berdiri sejak abad 14 atau ketika di Jawa sejaman kerajaan Demak Bintoro? Bukankah sejarah lebih jelas lagi dengan adanya makam Ki Gede yang merupakan penduduk pendatang dari Jawa yang menyebarkan Islam di sana? Ini pasti menarik minat bagi yang menekuni cerita dan sejarah peradaban Nusantara.  

Perlu diketahu pula bahwa bapak Demang A. Murat ini adalah anak langsung dari Demang Silam yang namanya diabadikan sebagai sebauh jalan desa di desa Dawak. Jadi selagi beliau Demang A. Murat masih sehat dan bisa membantu kita semua untuk bisa merekonstruksi ulang sejarah masa lalu maka sebaiknya segera diadakan penelitian.  

Satu lagi informasi bahwa desa Dawak juga biasa disebut sebagai Kotawaringin Darat karena letaknya di daratan taua jauh dari sungai besar atau 1 jam perjalanan darat (sekarang) off road. Bandingkan dengan Kotawaringin Lama yang terletak dijalur transportasi air yaitu sungai.

Sumonggo… silahkan..!

Posted in Dayak, J'lajah Desa, Kabudayan, Kalimantan, Uncategorized | Tagged , , , , , , , , | 1 Comment

Gelang Tewah Suku Dayak: Sebuah Kisah

Warisan gelang tewah berusia ratusan tahun dari saudara Dayak, Kalimantan Tengah

GELANG TEWAH (mungkin penulisan yang benar adalah ’tiwah’) gelah tewah ini adalah gelang yang dipakai para penari dalam upacara tewah (nyewu-nya orang Dayak, Kalimantan Tengah) yang penuh suasana magis. 

Upacara tewah biasanya diadakah 5 tahun sekali atau tergantung kesepakatan bersama mengingat biaya yang dikeluarkan keluarga atau ahli waris tidakah sedikit. 

Menurut tradisi dan kepercayaan saudara kita yang berasal dari Dayak Kaharingan (Kalteng) ini bahwa upacara tewah ini digelar sebagai sarana menghantar arwah nenek moyang mereka yang telah meninggal itu menuju Lewu Tatau atau surga. 

Menurut kepercayaan mereka bahwa arwah seseorang yang telah meninggal itu tidak akan bisa menyatu dengan Sang Pencipta di Lewu Teteu tanpa adanya upacara tewah yang diadakan para ahli warisnya. Sementara itu bagi ahli waris, mengadakan tewah adalah tanggung jawab moral mereka untuk membantu menyempurnakan perjalanan sang arwah orang-orang yang mereka kasihi menuju Lewu Tatau. Mengadakan tewah juga merupakan usaha ahli waris terhindar dari kutukan atau berbagai akibat buruk bila ahli warisnya lalai. 

Dalam pelaksanaannya terdapat beberapa pantangan yang bersifat magis karena upacara tewah ini sangat kentara sekali nuansa magisnya. Melanggar pantangan berarti telah mengacaukan jalannya upacara dan bisa-bisa terkena akibatnya (yang bersifat magis pula). 

Gelang tewah yang dipakai upacara tewah (nyewu-nya orang Dayak, Kalimantan Tengah) yang sekarang aku miliki ini adalah pemberian dari seorang warga Dayak Ngaju dari daerah Tumbang Manjul, Kalimantan Tengah yang letak desanya itu hampir berbatasan dengan wilayah Malaysia bagian timur. 

Gelang tewah yang diberikan kepada saya ini usianya telah mencapai ratusan tahun, menurut saudara Dayak-ku itu dan ini telah diwariskan dari datuk-datuk mereka. Maksud mereka memberikan barang ini kepada saya tiada lain, mereka ingin supaya saya yang menyimpan barang ini dan dibawa ke pulau Jawa sekaligus sebagai tanda pemberian yang khas dari saudara Dayak kepada saudara Jawa (saya). 

Itu saja. 

Jarak tempuh perjalanan ke Tumbang Manjul dari kota Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat (Kalteng) adalah selama 7 jam perjalanan darat off road. 

(Kalian yang bukan asli penduduk Kalimantan saya sarankan untuk tidak menyetir sendiri di medan yang tidak biasa dan sepi ini, jadi ajaklah orang lokal yang mengenal medan. Jangan pernah pergi ke pedalaman sendirian demi keamanan agar tidak tersesat). 

(Jangankan medan yang lebih luas, seseorang bisa saja kebingunan, hilang dan tersesat ’hanya’ di area perkebunan sawit yang ‘cuma’ kelasnya ‘kebun’ aja). 

Selain ber-off-road selama 7 jam, Tumbang Manjul juga bisa ditempuh dengan cara lain yaitu lewat sungai dengan menyewa speed boat selama 5 jam perjalan air dan ditambah 2 jam perjalanan darat. 

Kembali ke gelang tewah tadi. Cara pakai dan ‘membunyikan’ gelang tewah agar keluar bunyi berisiknya adalah dengan memakainya 2 gelang sekaligus di setiap satu tangan. Jadi ada 2 gelang di tangan kanan dan 2 gelang di tangan kiri. Untuk membunyikan gelang ini si pemakai cukup menggerakan tangannya seperti gerakan menghentak yang menimbulkan gerakan kejut dan karena gerakan kejut inilah gelang menjadi saling bertubrukan antar gelang dan keluarlah bunyinya yang nyaring. Apalagi penarinya berjumlah banyak pasti akan ribut, nyaring dan magis..! 

Bunyi nyaring gelang ini dihasilkan karena adanya rongga udara di dalam gelang itu yang dibuat sedemian rupa sehingga bentuknya menyerupai sebuah pipa dengan satu lubang irisan memutar diseluruh permukaan gelang. 

(Lihat foto di atas). 

Dalam upacara tewah terdapat pantangan di sana. Bagi ’ para pengunjung’ yang menghadiri upacara tewah ini, selama upacara berlangsung diharap untuk selalu mengisi alam pikiran bawah sadar mereka dengan sesuatu ’pemikiran’ yang membuat selalu terjaga dan jangan biarkan sampai alam pikiran menjadi kosong. Resiko dari keadaan ini adalah si empunya pikiran itu biasanya menjadi kesurupan.

Posted in Dayak, J'lajah Desa, Kabudayan, Kalimantan, Ndremimil..!, Pogog: Meet The Peoples | Tagged , , , , , , , , , | Leave a comment

S’pintas Desa Pogog

gapura desa pogog

Selamat datang di desa Pogog

MENGENAL S’PINTAS DESA POGOG : MENGAPA MESTI ADA KKN UNIK DI DESA ITU?

Desa Pogog terletak di lereng gunung Lawu (Jawa Tengah) di bagian sisi timur selatan atau tenggara pada ketinggian 575 dpl. Berhawa cenderung sejuk. Meski di lereng gunung letaknya, desa ini adalah desa kering, kurang air, tandus dan berbatu. Air bersih menjadi hal yang langka meski pada musim penghujan tiba. Hal ini dikarenakan pengaliran air bersih (hasil swadaya) di desa ini  dihanya berupa pipa pralon dengan ukuran terkecil dari sumber mata air yang jaraknya 5 kilo meteran dari asalnya. Meski begitu warga desa ini selalu tampak ceria dan tidak mengeluhkan keadaan ini. Desa Pogog termasuk desa kering, tertinggal dan belum berkembang.

Pada tahun 1993, saya bersama sebuah tim yang beranggotakan 16 orang dari Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) mengadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 2 bulan yakni bulan Agustus dan September.

Pada tahun 2003, saya berinisiatif untuk melanjutkan misi KKN yang 10 tahun sebelumnya pernah saya lakukan di desa ini. Tentu saja kali ini saya cuma sendirian tentunya. Termasuk di dalamnya nanti dalam mengidentifikasi permasalahan di desa itu, survei ke lapangan, perencanakan aksi, menentukan proiritas, studi pustaka, pelaksanaan di lapangan juga dalam hal pembiayaan… semua saya lakukan sendirian.

Sejak tahun 2004 saya mencoba dengan hal-hal yang sederhana sambil belajar untuk mengetahui siapa sedulur desaku ini? Sejak tahun 2007 KKN-ku ini sudah menemukan jalan dan bergerak maju secara cepat.

Apa maksud dari KKN sendirian itu?

Saya melakukan hal itu semata-mata hanya ingin membuktikan bahwa meski sendirian-pun itu pasti bisa. Saya hanya ingin (sedang) menguji satu keyakinan yang ada pemikiran saya : “bahwa saya pasti bisa meski saya bukan siapa-siapa bisa”. Maka, dengan segala keterbatasan dan kendala tetapi justru itulah yang menjadi modal utamaku. Keterbatasan dan kendala adalah tantangan yang meng-asyik-kan untuk ditaklukan.

(Sebentar, aku tertawa… menertawakan diriku sendiri dengan kata-kataku di atas tadi…. hahahahahaha….!)

Bayangakan, manusia jenis apa aku ini?

Selama ini, saya hanya tahu dunia furniture dan art painting, itupun juga baru punya sedikit ilmu – tentang mebelair dan lukisan tentunya. Sebagai orang swasta murni – kalian pasti paham – finansialku bukanlah berupa garis mendatar atau dengan kecenderungan naik tetapi berupa garis fluktuasi yang sama sekali tidak merata. Pokoknya… saya orang biasa seperti kebanyakkan orang – kadang ada duit kadang tidak ada duit.

Dan… sekarang mau mencoba menjadi penggerak dan pelopor pembangunan pedesaan? Apa yang bisa di-gawe dengan ilmu-ku itu yang kalau di desa itu identik dengan dunia pertanian? Di situlah ke-asyik-kan itu, menaklukan sesuatu yang aku tidak memiliki. Apalagi itu cuma dilakukan sendirian..!

Dan justru dengan semangat itu pulalah saat ini saya sedang menciptakan suatu modul pembangunan ala pedesaan yang bisa di-duplikasi, ditiru dan dikerjakan serta dilaksanakan justru oleh orang-orang seperti saya: “orang biasa”.

Tidak diperlukan lagi orang kaya yang dermawan atau yang punya ilmu dibidangnya untuk bisa memulai suatu perubahan yang baik. Sebab ‘modul pembangunan ala pedesaan’ ini berbiaya rendah yang memungkinkan siapapun jua untuk membiayai sendiri dan karena itulah modul ini bisa ditiru, di-duplikasi dan diterapkan oleh siapapun dan dimanapun. Karena murah..!

Yang menjadi satu syarat mutlaknya adalah kamu (mesti) mau mengalokasikan waktu untuk perhatian terhadap mereka yang akan dibangun itu dan kontinyuitas perhatian itu tidak terputus-putus.

Di sini saya akan menceritakan pengalaman saya selama saya KKN sendirian di desa Pogog itu, suka duka serta kendala dan permasalahannya terutama dalam hal budidaya pertanian dab budi daya buah-buahan. Problem pertanian? Solusinya? Mana aku tahu, aku bukan orang pertanian. Aku juga sedang belajar nih hahahahaha…..!

Dalam hal tertentu, saya berpikir bahwa sendirian itu lebih baik.

Selamat menikmati petualangan dalam rangka pembuktian suatu aplikasi sebuah teori ke lapangan…!

Teriring dengan satu ajakan: “Bersediakan Anda untuk menjadi pelopor pembangunan ala pedesaan, menjadi agen bagi satu perubahan? Jangan kuatir ‘orang biasa’-pun bisa melakukannya. Karena secara kodrati orang Indonesia itu baik-baik, pasti banyak yang menjawab :”Bersedia..!”

Pertanyaannya adalah: “Apakah meski dilakukan dalam rentang waktu yang sepanjang itu?”

Jawabnya adalah :”Tidak..!”

Waktu sebanyak dan sepanjang itu  adalah kesempatan yang diberikan Alloh Tuhan Yang Esa kepada saya untuk bisa menangkap hikmah dan menemukan cara untuk bisa mengubah dari suatu ide yang masih berupa gagasan menjadi satu kajian yang konkrit yang bisa diterapkan bagi orang lain.

Saya jamin Anda bisa menyingkat waktu untuk itu.
(Kenapa mesti lama bagiku? Ternyata karena lambatnya kemampuan dan jangkauan penalaran serta perasaanku untuk bisa memahami kehendak-Nya).
 

 

Posted in Dinamika Pogog, Indonesia Tetapi..., J'lajah Desa, Ndremimil..!, Pepayanisasi... On and On Progress, Pogog: Over View, Wengker | Tagged , , , , , , , , , , , , , | Leave a comment

The Art Of Suweg

Rahasia alam, rahasia suweg

THE ART OF SUWEG

kembang suweg, kembangnya jaman

setiap jaman berganti kembang suweg mendahului

hadir bersama semilir angin mongso labuh-nya pak tani

alarm alam yang tiada henti hadir sampai akhir jaman

sahabat kadang tani, teman pejuang sejati

indah dilihat, enak dimakan, teruji waktu tetap menjadi sahabat kala masa-masa sulit

mengagumimu - mengagumi pencipta-Mu

Ya Alloh, Ya Robbi…!

Alloh sang Maha Arsitek, maha arsitek alam yg sempurna

Rahasia dari Mundi Rahayu : ….berkat suweg ini gerilyawan Vietnam dulu bisa bertahan dan menang dari tentara Amerika karena mereka bisa survive di hutan dengan logistik alam ini.

Rahasia dari Wisik Sunaryanto : …wah barang langka yang mahal, tapi kita terlalu murah memberi harga bagi hasil bumi yang uar biasa ini.

Posted in Dinamika Pogog, Indonesia Tetapi..., J'lajah Desa, Kabudayan, Ndremimil..!, Pogog: Over View, Wengker | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Refleksi 65

Hormat bendera oleh sedulur Punokawan; Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

tahun 2010 : memperingati hari ulang tahun kemerdekaan ke 65 penuh dengan keprihatinan.

betapa tidak negara indonesia ini seakan belum pernah merasakan kemerdekaan dalam arti sesungguhnya.

sekian banyak lamanya dijajah fisik oleh bangsa kolonial
merdeka sebentar bersama bung karno
selanjutnya terjajah lagi meski lewat cara berbeda

penjajah sepertinya tidak pernah kekurangan akal untuk mencaplok lagi bumi pertiwi. lain lagi dgn penjajah indlander gak kalah bengisnya, ngisap darah sesama anak republiken.

di sisi lain para pengisi kemerdekaan yang masih sama-sama belajar dalam berdemokrasi justru saling klaim nilai kebenaran dari sisi mereka sendiri… menapikan sisi pandang suadara lainnya, sampai-sampai lupa pada roh nusantara sejati yang berdasar musyawarah untuk mufakat.

tiap kali sering dijumpai mereka saling mencaci, saling menghinakan, saling terkam dan saling serang, saling fitnah, saling mangaku paling pintar dan paling benar, sementara martabat bangsa tanda sadar telah jatuh di mata dunia, bahkan negara tetangga yang gurem aja seakan tiada lagi takut apalagi menghargai.

indonesia jatuh ke titik paling rendah

tapi… justru dgn saling gontok.., caci… serang… hinakan inilah yang akan mengkonstruksi ulang jati diri bangsa indonesia yang sesungguhnya yang akan menjadikan bangsa indonesia lebih kuat kedepannya.

secara keragamaman budaya, agama, alam serta etniknya: saya bangga dengan bangsa ini

begitu pula saya bangga terhadap besar dan kayanya alam diberikan Sang Illahi kepada bangsa ini…

tetapi secara prestasi: saya belum bangga dengan bangsa ini

Posted in Dinamika Pogog, Indonesia Tetapi..., Ndremimil..! | Tagged , , , , , | 1 Comment